Ikuti Kami :

Disarankan:

Batu Bangkis, Monolit Sakral di Lereng Gunung Sangkur Kota Banjar

Minggu, 30 November 2025 | 13:31 WIB
Batu Bangkis, Monolit Sakral di Lereng Gunung Sangkur Kota Banjar
Batu Bangkis, Monolit Sakral di Lereng Gunung Sangkur Kota Banjar. Foto: Istimewa

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banjar mengungkap sejumlah kisah menarik terkait Batu Bangkis, sebuah monolit alami yang berada di kawasan Situs Diduga Objek Cagar Budaya (ODCB) Gunung Sangkur, Kecamatan Pataruman, Jawa Barat.

BANJAR, NewsTasikmalaya.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banjar mengungkap sejumlah kisah menarik terkait Batu Bangkis, sebuah monolit alami yang berada di kawasan Situs Diduga Objek Cagar Budaya (ODCB) Gunung Sangkur, Kecamatan Pataruman, Jawa Barat.

Batu Bangkis terletak di lereng curam Gunung Sangkur, tepatnya di lahan BKPH Banjar Selatan, Desa Batulawang. Lokasi ini juga berdekatan dengan beberapa situs sejarah lain seperti Sanghyang Bedil, Batu Pangkon, dan Sumur Bandung.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Banjar, Tatang Heryanto, menjelaskan bahwa Batu Bangkis merupakan monolit breksi vulkanik berkomposisi basaltis. Dalam bahasa setempat, masyarakat menyebut batu ini sebagai Batu Budug.

“Permukaan Batu Bangkis tidak menunjukkan jejak artificial atau sentuhan manusia, melainkan terbentuk secara alami. Batu ini dikenal luas dan masih dianggap sakral di Kota Banjar,” ujar Tatang, Minggu (30/11/2025).

Ia menambahkan, Batu Bangkis memiliki bentuk lonjong menyerupai bangkong atau katak besar, dengan ukuran panjang sekitar 6,5 meter, lebar 2,20 meter, dan tinggi 1,90 meter.

Menurut juru kunci setempat, Ujang Rusmana, istilah bangkis merupakan penghalusan dari kata bangkong, digunakan sebagai bentuk penghormatan karena batu tersebut dianggap sakral oleh masyarakat.

Nilai sakral Batu Bangkis diyakini sudah ada sejak masa megalitik klasik. Pada masa perkembangan Islam, penghormatan terhadap batu ini dilanjutkan melalui tradisi Nyuguh, sebuah ritual yang dahulu digelar setiap bulan Maulud di sekitar lokasi. Namun kini, tradisi tersebut dialihkan ke area kampung.

Selain itu, terdapat sejumlah pantangan yang masih dipercaya masyarakat hingga kini. Salah satunya, pengunjung dilarang menyebut kata bangkong secara sembarangan karena diyakini dapat mendatangkan musibah.

Pantangan lain ialah larangan menggelar pertunjukan wayang di kawasan tersebut, mengingat keberadaan Batu Sanghyang Wenang di puncak Gunung Sangkur yang dianggap memiliki kekuatan tertentu.

Ujang menambahkan, Batu Bangkis menjadi tempat persinggahan leluhur dan lokasi nyingkur atau panyingkuran. Istilah ini kemudian melahirkan nama Gunung Sangkur sebagai toponomi daerah tersebut.

Legenda yang Menguatkan Identitas Lokal

Terdapat pula versi cerita lain yang mengaitkan Gunung Sangkur dengan legenda Sangkuriang. Di wilayah Pagerbatu, terdapat Batu Ranggon yang dipercaya sebagai Saung Dayang Sumbi, ibu dari Sangkuriang.

“Dengan kisah yang sarat mitos dan nilai budaya, Batu Bangkis bukan hanya monolit alami, tetapi juga simbol warisan sejarah yang memperkaya identitas masyarakat Banjar,” pungkas Ujang.

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement