Ikuti Kami :

Disarankan:

Kasus Siswi SMA Digilir 6 Teman, FP3 Kota Banjar: Bukan Sekadar Kenakalan Remaja

Rabu, 05 November 2025 | 21:49 WIB
Kasus Siswi SMA Digilir 6 Teman, FP3 Kota Banjar: Bukan Sekadar Kenakalan Remaja
Kasus Siswi SMA Digilir 6 Teman, FP3 Kota Banjar: Bukan Sekadar Kenakalan Remaja.

Kasus seorang siswi SMA di Kota Banjar, yang digilir enam teman sekolahnya sendiri, memantik keprihatinan berbagai pihak. Forum Pemuda Peduli Pendidikan (FP3) Kota Banjar menilai peristiwa kasus ini sebagai cerminan krisis karakter di kalangan pelajar yang tak bisa lagi dianggap remeh.

BANJAR, NewsTasikmalaya.com - Kasus seorang siswi SMA di Kota Banjar, yang digilir enam teman sekolahnya sendiri, memantik keprihatinan berbagai pihak. Forum Pemuda Peduli Pendidikan (FP3) Kota Banjar menilai peristiwa kasus ini sebagai cerminan krisis karakter di kalangan pelajar yang tak bisa lagi dianggap remeh.

“Saya merasa miris dan prihatin. Ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja, apalagi jika didahului pesta miras, tapi sudah masuk ranah pidana. Kasus ini harus menjadi perhatian serius semua pihak,” ujar Ketua FP3 Banjar, Diky Agustaf, saat ditemui, Rabu (5/11/2025).

Menurut Diky, kasus ini menunjukkan adanya penurunan moral yang signifikan di kalangan pelajar. Ia menilai, degradasi karakter ini merupakan kegagalan sistem pendidikan, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.

“Penurunan karakter ini bukan terjadi tiba-tiba. Ini akumulasi dari lemahnya pendidikan karakter di rumah dan di sekolah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti hilangnya budaya gotong royong dalam mendidik anak. Masyarakat, kata dia, kini cenderung enggan menegur anak yang berbuat salah karena takut dianggap melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak.

“Sekarang jarang sekali ada orang yang mau menegur anak ketika berbuat salah. Kita seolah masa bodoh karena khawatir akan aturan seperti UU Perlindungan Anak atau UU Ramah Anak,” ujarnya.

Kondisi serupa, lanjut Diky, juga dialami para guru di sekolah. Banyak guru merasa terbatasi dalam mendidik karena takut dilaporkan oleh pihak tertentu.

“Sedikit-sedikit ada laporan, akhirnya guru disalahkan. Ini harus segera dicari solusinya. Mari kita duduk bersama pemerintah, masyarakat, hingga aparat penegak hukum menyamakan frekuensi untuk menyelamatkan masa depan anak-anak kita,” katanya.

Diky menekankan pentingnya sinergi antar unsur dalam dunia pendidikan melalui pendekatan Pentahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.

“Ingat, anak-anak usia sekolah adalah aset bangsa dan generasi penerus. Kalau kita abai, bagaimana nasib bangsa ini ke depan?” ujarnya.

Ia juga menyoroti program pembinaan karakter melalui barak militer yang digagas Gubernur Jawa Barat sebagai langkah positif. Namun, ia mempertanyakan efektivitas jangka panjangnya.

“FP3 sangat mendukung program barak militer. Tapi apakah hasilnya akan bertahan lama jika guru di sekolah masih takut bersikap tegas?” ucapnya.

Sebagai bentuk kepedulian, FP3 mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, khususnya bidang perlindungan perempuan dan anak, untuk segera turun tangan mengawal kasus ini.

“Saya harap Disdik dan Dinsos Jabar, bahkan Komisi Daerah Perlindungan Anak, bisa turun langsung. Kasus ini harus dikawal sampai tuntas,” pungkas Diky.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement