Ikuti Kami :

Disarankan:

Puluhan Peserta Ikuti Mental Health Class di Ciamis, Belajar Mengenal Diri hingga Membangun Batasan Sehat

Minggu, 05 Juli 2026 | 09:07 WIB
Puluhan Peserta Ikuti Mental Health Class di Ciamis, Belajar Mengenal Diri hingga Membangun Batasan Sehat
Puluhan Peserta Ikuti Mental Health Class di Ciamis, Belajar Mengenal Diri hingga Membangun Batasan Sehat. Foto: Istimewa

Komunitas Gada Membaca bersama Biro Psikologi Sahabat Proses Ciamis menggelar Mental Health Class yang diikuti 66 peserta dari berbagai kalangan.

CIAMIS, NewsTasikmalaya.com – Edukasi mengenai kesehatan mental semakin mendapat perhatian di kalangan generasi muda. Hal itu terlihat dari tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Mental Health Class yang digelar Komunitas Gada Membaca bersama Biro Psikologi Sahabat Proses Ciamis selama masa liburan sekolah.

Program yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti oleh 66 peserta dari beragam kalangan, mulai dari pelajar tingkat SMP dan SMA, mahasiswa, tenaga pendidik, hingga masyarakat umum. Peserta datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Ciamis dan sebagian dari Kota Tasikmalaya.

Dalam kegiatan tersebut, psikolog Asri Nasrilah Alam, M.Psi., hadir sebagai pemateri utama dengan membawakan sejumlah topik yang berkaitan dengan pengenalan diri, pengelolaan emosi, hingga kemampuan membangun batasan pribadi yang sehat.

Pada sesi awal, peserta diajak melakukan refleksi untuk lebih memahami diri sendiri. Materi bertajuk Aku Siapa dan Mau ke Mana? membahas pentingnya mengenali karakter, nilai hidup, potensi, serta tujuan yang ingin dicapai sebagai bekal dalam menentukan arah kehidupan. 

Menurut Asri, kemampuan memahami diri menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental karena membantu seseorang mengambil keputusan yang selaras dengan kebutuhan dan prinsip hidupnya.

Memasuki sesi berikutnya, pembahasan berfokus pada hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku. Peserta diperkenalkan pada konsep distorsi kognitif, yakni pola pikir yang kurang tepat dan berpotensi memengaruhi kondisi emosional seseorang.

Tak hanya menerima materi secara teoritis, peserta juga diajak mempraktikkan berbagai metode untuk mengembangkan pola pikir yang lebih positif dan adaptif. Beberapa teknik yang dikenalkan antara lain refleksi diri, self-talk, menulis jurnal harian (*journaling*), hingga membiasakan diri mengonsumsi informasi yang bermanfaat melalui aktivitas membaca.

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah praktik *art therapy* atau terapi seni. Melalui kegiatan tersebut, peserta diberi ruang untuk mengenali, mengekspresikan, dan memahami emosi yang selama ini mungkin sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Pada sesi penutup, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya membangun *healthy boundaries* atau batasan diri yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Materi ini membahas bagaimana seseorang dapat menghargai dirinya sendiri sekaligus menjaga hubungan yang sehat dengan orang lain.

Peserta juga mempelajari teknik komunikasi asertif melalui metode T-I-D-A-K, yang mengajarkan cara menyampaikan penolakan secara sopan namun tegas sesuai kemampuan dan kebutuhan pribadi.

Asri menegaskan bahwa kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi tekanan hidup, tetapi juga keberanian untuk memahami diri sendiri secara lebih mendalam.

“Kesehatan mental bukan hanya soal bertahan menghadapi masalah, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengenali dirinya, mengelola pikiran, menerima emosi, dan memiliki batasan yang sehat dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Minggu (5/7/2026).

Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari para peserta. Salah satunya, Pepi Sulastri, yang mengaku memperoleh banyak pelajaran baru sekaligus pengalaman berharga selama masa libur kuliah.

Menurutnya, kelas kesehatan mental menjadi ruang yang bermanfaat untuk menambah wawasan sekaligus membantu proses pemulihan emosional yang sedang dihadapi.

Hal serupa disampaikan pelajar SMA, Thoriq Fauzan. Ia menilai materi yang diberikan sangat relevan dengan berbagai tantangan yang kerap dihadapi remaja saat ini, terutama dalam menghadapi tekanan sosial maupun persoalan pribadi.

Sementara itu, dua peserta yang berprofesi sebagai guru, Iyus Nurmilah dan Rahayu, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai cara memahami diri, mengelola pikiran, dan menerapkan batasan yang sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Relawan Komunitas Gada Membaca, Ghalib Anugrah, berharap kegiatan ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas antara komunitas literasi dan lembaga psikologi dalam menghadirkan layanan edukasi kesehatan mental yang mudah diakses masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan literasi yang baik, tetapi juga kesadaran tinggi terhadap kesehatan mental sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan secara lebih bijaksana.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement