Ikuti Kami :

Disarankan:

Angka Kematian Ibu di Banjar Meningkat, Wali Kota: Alarm bagi Kita Semua

Rabu, 24 September 2025 | 16:46 WIB
Angka Kematian Ibu di Banjar Meningkat, Wali Kota: Alarm bagi Kita Semua
Angka Kematian Ibu di Banjar Meningkat, Wali Kota: Alarm bagi Kita Semua.

Wali Kota Banjar, Sudarsono, menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya angka kematian ibu di wilayahnya. Hingga Agustus 2025, tercatat lima kasus kematian ibu. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang mencapai tiga kasus, serta menyamai angka tahun 2023.

BANJAR, NewsTasikmalaya.com – Wali Kota Banjar, Sudarsono, menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya angka kematian ibu di wilayahnya. Hingga Agustus 2025, tercatat lima kasus kematian ibu. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang mencapai tiga kasus, serta menyamai angka tahun 2023.

Hal itu ia sampaikan saat membuka kegiatan Pengkajian Kasus Kematian Ibu atau Audit Maternal Perinatal Sosial Respon (AMP-SR) yang digelar di Aula Toserba Pajajaran Banjar, Rabu (24/9/2025).

“Angka ini menjadi alarm bagi kita semua. Kematian ibu bukan hanya urusan medis, tapi juga cerminan daya tahan sosial dan kualitas layanan publik,” ujar Sudarsono.

Dari lima kasus kematian ibu, dua disebabkan oleh perdarahan, dua karena penyakit jantung, dan satu akibat pre-eklampsi berat. Empat kasus terjadi pada masa nifas, sementara satu kasus terjadi saat persalinan.

Menurut Sudarsono, angka kematian ibu merupakan indikator penting dalam Rencana Induk Bidang Kesehatan (RIBK) baik nasional maupun daerah, sekaligus menjadi bagian dari evaluasi kinerja perangkat daerah. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak, baik sektor kesehatan maupun non-kesehatan, untuk bersama-sama menekan angka kematian ibu.

“Ini bukan hanya tanggung jawab tenaga medis. Semua sektor harus terlibat, mulai dari edukasi keluarga hingga penguatan layanan di tingkat desa,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa Kota Banjar telah mencapai Universal Health Coverage (UHC) non cut off dengan capaian 98,54 persen. “Capaian ini diharapkan menjadi modal penting dalam memperluas akses layanan kesehatan ibu dan anak,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar, Saifuddin, menambahkan bahwa AMP-SR bertujuan menelusuri penyebab kesakitan dan kematian ibu serta perinatal secara sistematis.

“Data dari setiap kasus digunakan untuk menyusun intervensi yang tepat, agar kematian yang bisa dicegah tidak terulang,” ujarnya.

Kegiatan ini diikuti 52 peserta dari rumah sakit, puskesmas, organisasi profesi, dan tim kerja Dinas Kesehatan. Narasumber utama adalah dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari BLUD RSU Kota Banjar.

Adapun upaya penurunan angka kematian ibu di Kota Banjar dilakukan melalui berbagai program, seperti pemeriksaan kesehatan ibu hamil minimal enam kali, penyediaan USG di puskesmas, suplementasi gizi, pendampingan oleh dokter spesialis, kelas ibu hamil, serta peningkatan kapasitas petugas dan kader kesehatan.

“Harapannya, pengkajian ini tidak berhenti di ruang diskusi, tapi berlanjut pada aksi nyata di lapangan,” tutup Saifuddin.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement