Ikuti Kami :

Disarankan:

Dua Medali Internasional dalam Sebulan, Kado Manis HUT ke-70 SMAN 1 Tasikmalaya

Senin, 21 September 2026 | 20:55 WIB
Dua Medali Internasional dalam Sebulan, Kado Manis HUT ke-70 SMAN 1 Tasikmalaya
Rossiana Nurul Amni dan Emyr Muhammad Hakim. Dua Medali Internasional dalam Sebulan, Kado Manis HUT ke-70 SMAN 1 Tasikmalaya. Foto: Istimewa

Prestasi tersebut menjadi kado istimewa bagi HUT ke-70 SMAN 1 Tasikmalaya sekaligus membuktikan kualitas pembinaan siswa yang mampu bersaing di tingkat dunia.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – SMA Negeri 1 Tasikmalaya kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat internasional. Dalam rentang waktu kurang dari satu bulan, dua siswanya berhasil meraih penghargaan pada ajang olimpiade sains dunia yang berlangsung di Indonesia.

Prestasi tersebut dipersembahkan oleh Emyr Muhammad Hakim, yang meraih Silver Medal pada International Applied Physics Olympiad (IAPhO) 2026, serta Rossiana Nurul Amni, yang sukses membawa pulang Bronze Award pada International Life Science Olympiad (ILSO) 2026.

Capaian tersebut menjadi kado istimewa bagi SMAN 1 Tasikmalaya yang tahun ini genap berusia 70 tahun.

Kepala SMAN 1 Tasikmalaya, Dr. H. Yonandi, S.Si., M.T., menyebut keberhasilan kedua siswa tersebut sebagai pencapaian yang sangat membanggakan bagi seluruh keluarga besar sekolah. “Ini adalah kado terindah di usia ke-70 sekolah kami,” ujar Yonandi, dalam keterangan tertulisnya yang diterima NewsTasikmalaya.com, Senin (21/9/2026).

“Dua medali di dua bidang berbeda menunjukkan bahwa pembinaan kami tidak terbatas pada satu disiplin ilmu," sambung Yonandi. 

Emyr Harumkan Nama Indonesia di Olimpiade Fisika Internasional

Ajang IAPhO 2026 berlangsung di Bandung pada 27–30 Agustus 2026 dan diikuti 127 peserta dari 11 negara. Kompetisi tersebut menguji kemampuan peserta dalam menyelesaikan soal fisika teori hingga studi kasus yang berkaitan dengan penerapan ilmu fisika dalam kehidupan nyata.

Di tengah persaingan ketat peserta internasional, Emyr Muhammad Hakim berhasil mempersembahkan medali perak.

Siswa kelas XII itu mengaku ketertarikannya terhadap fisika tumbuh sejak duduk di kelas X.

“Fisika selalu menarik bagi saya karena mengungkap cara kerja alam semesta dan memberikan kepuasan tersendiri saat berhasil memecahkan soal-soal rumit,” tuturnya.

Dalam mempersiapkan diri menuju kompetisi internasional, Emyr mengaku berusaha menjaga keseimbangan antara persiapan lomba dan kewajiban akademik di sekolah.

“Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik. Di tengah padatnya persiapan perlombaan, saya mencoba membagi waktu secara bijak antara belajar fisika dan mata pelajaran lainnya. Bagi saya, yang terpenting adalah terus mencoba dan memperjuangkan hasil yang maksimal serta memperkuat jalur langit,” ujarnya.

Ia mengaku tantangan terbesar yang dihadapi bukan hanya soal akademik, tetapi juga mengendalikan rasa gugup selama kompetisi berlangsung.

Meski demikian, pengalaman mengikuti IAPhO menjadi pelajaran berharga yang semakin memotivasi dirinya untuk terus berkembang.

“Alhamdulillah, bisa mendapatkan pengalaman yang menjadi pembelajaran serta rasa semangat untuk terus berjuang,” katanya.

Emyr juga mengapresiasi dukungan yang diberikan sekolah melalui program pembinaan, latihan intensif, serta fasilitas perpustakaan.

“Adanya pembinaan rutin untuk memperdalam ilmu fisika sangat membantu saya,” tambahnya.

Ia secara khusus menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga, guru, dan teman-teman yang terus memberikan dukungan selama proses persiapan.

Untuk para pelajar yang ingin mengikuti jejaknya, Emyr berpesan: “Prosesnya memang penuh dengan tantangan, tapi percayalah tiap usaha keras tidak akan mengkhianati hasil. Terus melangkah, jangan ragu dengan potensi diri sendiri, dan nikmati jalannya.”

Rossiana Raih Bronze Award pada Olimpiade Ilmu Hayati Dunia

Prestasi internasional lainnya datang dari Rossiana Nurul Amni yang meraih Bronze Award pada International Life Science Olympiad (ILSO) 2026 yang berlangsung di Denpasar, Bali, pada 3–6 September 2026.

Ajang tersebut mempertemukan peserta dari 13 negara dan menguji kemampuan di bidang biologi, bioteknologi, genetika molekuler, serta ekologi.

Rossiana mengungkapkan minatnya terhadap dunia olimpiade telah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Saya sedari SD sudah tertarik dalam bidang perlombaan olimpiade akademik maupun non-akademik. Hal itu membuat saya mengasah kemampuan dan terus mengembangkan potensi hingga di SMA saya serius mengikuti Olimpiade Biologi,” tuturnya.

Ketertarikannya terhadap biologi muncul karena ilmu tersebut mengajarkan hubungan antarmakhluk hidup dan lingkungan.

“Biologi membawa saya memiliki perasaan peduli dengan lingkungan sistem kehidupan bekerja,” ujarnya.

Persiapan menuju ILSO dilakukan secara intensif melalui pendalaman materi, latihan soal nasional dan internasional, serta pendampingan dari guru pembimbing.

Rossiana mengakui sempat merasa gugup saat mengetahui dirinya akan bersaing dengan peserta dari berbagai negara.

“Saya pikir ini kompetisi besar karena pesertanya dari berbagai latar belakang negara,” akunya.

Tantangan terberat baginya adalah membagi waktu antara kegiatan belajar, organisasi, bimbingan belajar, dan persiapan kompetisi.

Namun pengalaman berinteraksi dengan peserta dari berbagai negara menjadi salah satu momen paling berkesan.

“Kami bertukar informasi mengenai kebiasaan dan cara belajar, dan kami mempelajari hal-hal mengenai biologi bersama,” kenangnya.

Rossiana mengaku bangga dapat menjadi salah satu wakil Kota Tasikmalaya dan Jawa Barat di ajang internasional.

“Saya sangat bangga dapat membawa nama baik sekolah dan keluarga saya,” ujarnya.

Baginya, penghargaan yang diraih bukan hanya soal medali, tetapi kesempatan untuk mengharumkan nama almamater di tingkat dunia.

Hasil Pembinaan dan Program Sekolah

Keberhasilan Emyr dan Rossiana tidak lepas dari peran guru pembina, Ratna Yuniar Halim Bakar, S.Pd., M.Pd., yang selama ini mendampingi proses pembinaan keduanya.

“Kami melihat potensi besar pada diri mereka sejak awal. Yang dibutuhkan hanya ketekunan dan keberanian untuk mencoba,” ujar Ratna.

Ia menjelaskan bahwa pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga penguatan mental dan karakter siswa.

“Kami ingin mereka tidak hanya menang, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang tangguh,” tuturnya.

Menurut Ratna, capaian tersebut sejalan dengan visi sekolah melalui program 3K (Karakter, Kabisa, Katarima) serta gerakan One Student, One Achievement yang mendorong setiap siswa mengembangkan potensi terbaiknya.

“Kami percaya setiap anak punya jalannya sendiri. Tugas sekolah adalah memastikan mereka menemukannya,” katanya.

Selain prestasi internasional, SMAN 1 Tasikmalaya juga terus menunjukkan capaian akademik yang kuat melalui jalur seleksi perguruan tinggi negeri. Dari 420 lulusan tahun 2026, sekitar 80 siswa diterima melalui jalur SNBP dan 21 di antaranya berhasil lolos ke Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dua medali internasional yang diraih dalam waktu berdekatan menjadi bukti bahwa pelajar daerah mampu bersaing di level dunia apabila mendapat pembinaan yang tepat, dukungan lingkungan yang positif, serta kemauan kuat untuk terus belajar dan berkembang.

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement