BANJAR, NewsTasikmalaya.com – Ratusan buruh pabrik rokok di wilayah Kota Banjar tersenyum sumringah setelah menerima penyaluran bantuan sosial berupa uang tunai sebesar Rp1.200.000 per orang. Penyerahan bantuan tersebut dipusatkan di Aula Somahna Bagja Dibuana, Gedung Sekretariat Daerah (Setda) Kota Banjar, pada Senin (20/7/2026).
Bantuan Langsung Tunai (BLT) ini merupakan program tahunan yang hanya diberikan sekali dalam satu tahun anggaran. Sumber pendanaan bantuan reguler tersebut dialokasikan secara khusus dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima oleh pemerintah daerah.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kota Banjar, Hani Supartini, membeberkan bahwa program jaminan sosial kali ini menyasar 132 orang buruh rokok yang tersebar merata di empat kecamatan se-Kota Banjar. Tidak hanya kalangan pekerja pabrik, Pemkot Banjar juga memperluas jangkauan penerima manfaat kepada kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) sebanyak 674 orang. Total pagu anggaran yang digelontorkan untuk menyokong program ini mencapai Rp562.800.000.
"Penyaluran bantuan hari ini khusus diberikan kepada 132 buruh pabrik rokok se-Kota Banjar dari empat kecamatan dengan frekuensi sekali setahun. Secara keseluruhan, penerima manfaat kompensasi DBHCHT ini menyasar 674 lansia dan 132 buruh rokok. Kumulatif anggaran yang kami salurkan hari ini menyentuh angka Rp562.800.000," terang Hani di lokasi penyerahan bantuan.
Salah seorang buruh pabrik rokok penerima manfaat, Yani Yuliani, mengaku sangat bersyukur atas kelanjutan program ini. Ia membeberkan bahwa dirinya tercatat sudah tiga kali menerima stimulus dana tunai dengan nominal yang konsisten sama di setiap periodenya. Yani memastikan dana segar yang ia bawa pulang tersebut akan langsung dialokasikan untuk membiayai pos kebutuhan dapur dan belanja rumah tangga sehari-hari.
"Saya sudah tiga kali berturut-turut menerima bantuan ini dengan besaran nominal yang sama. Intervensi bantuan dari pemerintah ini tentu sangat membantu kami dalam menutup pengeluaran serta kebutuhan pokok keluarga sehari-hari," ungkap Yani.
Lebih jauh, Hani Supartini menjelaskan bahwa besaran atau kuota formula bantuan DBHCHT yang disalurkan bersifat variatif dan berbeda di setiap kabupaten/kota. Variasi jumlah tersebut sangat bergantung pada indikator keberadaan klaster pabrik rokok aktif, serta produktivitas petani komoditas cengkeh maupun tembakau di daerah masing-masing. Untuk wilayah Kota Banjar sendiri, sektor pertaniannya tergolong minim pada dua komoditas bahan baku rokok tersebut.
"Hal fundamental yang membedakan Banjar dengan daerah sentra lainnya adalah keberadaan petani tembakau dan cengkeh. Berdasarkan rilis data dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Banjar, di wilayah kita memang tercatat tidak memiliki petani untuk kedua komoditas tersebut," pungkas Hani.
Guna menghindari terjadinya kerumunan massa, proses manajemen penyaluran sisa bantuan langsung tunai ini dijadwalkan akan berlangsung maraton selama tiga hari ke depan. Petugas akan disebar langsung menuju kantor desa atau kelurahan setempat yang tersebar di empat wilayah kecamatan di Kota Banjar. Langkah taktis ini diharapkan mampu mempermudah akses ratusan buruh rokok dalam mencairkan hak bantuan mereka dengan cepat dan aman.