Ikuti Kami :

Disarankan:

Pacar Online Berbayar Merebak di TikTok, Orang Tua di Banjar Khawatir Dampak ke Remaja

Kamis, 08 Januari 2026 | 12:52 WIB
Pacar Online Berbayar Merebak di TikTok, Orang Tua di Banjar Khawatir Dampak ke Remaja
Pacar Online Berbayar Merebak di TikTok, Orang Tua di Banjar Khawatir Dampak ke Remaja.

Di tengah tekanan ekonomi yang kian terasa, warga Kota Banjar, Jawa Barat, dihadapkan pada fenomena sosial yang tak kalah mengusik. Bukan soal harga kebutuhan pokok atau kenaikan bahan bakar, melainkan kemunculan layanan pacar online berbayar yang dipromosikan melalui platform TikTok.

BANJAR, NewsTasikmalaya.com - Di tengah tekanan ekonomi yang kian terasa, warga Kota Banjar, Jawa Barat, dihadapkan pada fenomena sosial yang tak kalah mengusik. Bukan soal harga kebutuhan pokok atau kenaikan bahan bakar, melainkan kemunculan layanan pacar online berbayar yang dipromosikan melalui platform TikTok.

Fenomena tersebut memicu keresahan, terutama di kalangan orang tua. Mereka khawatir anak-anak remaja yang masih dalam fase pencarian jati diri justru terpapar praktik relasi semu yang berpotensi berdampak negatif, baik secara moral maupun sosial.

Keresahan itu pun sampai ke Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kota Banjar. Kepala Dinsos P3A, Hani Supartini, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari sejumlah komunitas masyarakat.

“Sudah ada komunitas yang menyampaikan laporan. Kekhawatiran mereka adalah anak-anak dan remaja nantinya mengakses akun tersebut,” ujar Hani.

Menurutnya, yang menjadi sorotan bukan semata besaran tarif, melainkan potensi praktik di balik layanan tersebut. Skema transaksi hingga aktivitas lanjutan dari layanan pacar online dinilai masih abu-abu dan berisiko.

“Kami belum mengetahui secara pasti transaksi yang terjadi seperti apa. Namun dari konten yang ditawarkan saja, sudah cukup meresahkan. Kami khawatir anak-anak mencari jalan pintas untuk hal-hal yang tidak baik,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, Dinsos P3A Kota Banjar telah berkoordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan terkait. Selain itu, edukasi juga dilakukan secara langsung ke sekolah-sekolah dan lingkungan desa guna membentengi remaja dari pengaruh layanan instan yang menyimpang.

“Kami sudah melakukan edukasi ke sekolah-sekolah agar anak-anak tidak mudah tergoda dengan hal-hal instan seperti ini,” tambah Hani.

Berdasarkan penelusuran, layanan pacar online tersebut menawarkan tarif yang relatif murah. Dengan biaya sekitar Rp 30 ribu, pengguna dapat melakukan panggilan video selama 15 menit. Sementara untuk paket kencan offline berdurasi satu jam, tarifnya dipatok sekitar Rp 100 ribu. Seluruh promosi dilakukan melalui siaran langsung di TikTok.

Fenomena ini mencerminkan pergeseran cara pandang sebagian masyarakat terhadap relasi dan kedekatan emosional. Hubungan yang dahulu dibangun melalui proses dan kedekatan personal, kini dapat dikemas menjadi layanan berjangka dengan durasi dan tarif tertentu.

Di satu sisi, praktik tersebut dianggap sebagai bagian dari dinamika ekonomi digital. Namun di sisi lain, kehadirannya memunculkan kekhawatiran baru, khususnya terkait perlindungan anak dan remaja. Ketika relasi emosional bisa diperdagangkan, batas antara kebutuhan sosial dan komodifikasi perasaan menjadi semakin kabur.

Bagi pemerintah daerah, fenomena ini menjadi pengingat bahwa pengawasan dan edukasi sosial harus berjalan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi digital.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement