Ikuti Kami :

Disarankan:

VIDEO: Kanwil Kemenag Jabar Pantau Hilal Awal Ramadan 1447 H di 6 Titik

Kamis, 19 Februari 2026 | 09:52 WIB

Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat (Kanwil Kemenag Jabar) akan melaksanakan pemantauan hilal (rukyatul hilal) penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2/2026) sore.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat (Kanwil Kemenag Jabar) akan melaksanakan pemantauan hilal (rukyatul hilal) penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2/2026) sore. Di Jawa Barat, pemantauan dilakukan di enam titik lokasi.

Kepala Kanwil Kemenag Jabar, Dudu Rohman, mengatakan enam titik tersebut menjadi lokasi resmi rukyatul hilal untuk wilayah Jawa Barat.

“Untuk pemantauan hilal yang nantinya menjadi dasar penetapan 1 Ramadan di Jabar ada enam titik," ujar Dudu saat ditemui di Kecamatan Tawang, Selasa (17/2/2026) pagi.

Enam Titik Rukyatul Hilal

Adapun enam lokasi pemantauan hilal tersebut berada di:

1. Lapan Banjar (wilayah Kota/Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis)

2. Pantai Baro Cirebon (Indramayu dan Majalengka)

3. Astana Subang (Bekasi, Purwakarta, Karawang)

4. POB Cibeas Sukabumi (Bogor, Depok, Cianjur)

5. Unisba Kota Bandung (Bandung Raya, Sumedang, Garut)

6. Pangandaran (mandiri)

“Jadi ada enam wilayah titik rukyatul hilal di Jawa Barat,” jelasnya.

Dilaporkan ke Pusat dan Dibahas dalam Sidang Isbat

Dudu menuturkan, hasil pemantauan dari enam titik tersebut akan langsung dilaporkan ke Kementerian Agama RI untuk selanjutnya dibahas dalam sidang isbat.

“Nanti setiap titik melaporkan hasilnya ke pusat melalui sidang isbat yang melibatkan para ahli, mulai dari ahli ilmu falak hingga perwakilan ormas Islam,” ungkapnya.

Ia menegaskan, lokasi pemantauan tahun ini tidak berbeda dari tahun sebelumnya karena sudah menjadi titik tetap berdasarkan pengalaman dan hasil pengamatan sebelumnya.

Kombinasi Metode Tradisional dan Modern

Untuk mengoptimalkan hasil rukyatul hilal, Kemenag mengombinasikan metode tradisional (rukyat langsung) dan metode modern dengan bantuan peralatan teknologi.

“Baik ormas maupun Kemenag menggunakan metode hisab dan rukyat, termasuk dukungan alat modern agar hasilnya maksimal,” katanya.

Terkait potensi perbedaan penetapan awal Ramadan, Dudu mengimbau masyarakat agar menyikapinya dengan bijak.

“Kita jangan memperbesar perbedaan. Setiap ormas memiliki metode perhitungan masing-masing, baik hisab maupun rukyat. Intinya saling menghormati dan mengikuti ketetapan pemerintah,” pungkasnya.

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement