Ikuti Kami :

Disarankan:

VIDEO: Kecewa Tak Ditemui Wali Kota, Mahasiswa Bakar Ban di Depan Bale Kota Tasikmalaya

Jumat, 27 Februari 2026 | 08:32 WIB

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Tasikmalaya menggelar aksi unjuk rasa di depan Bale Kota Tasikmalaya, Kamis (26/2/2026) siang.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Tasikmalaya menggelar aksi unjuk rasa di depan Bale Kota Tasikmalaya, Kamis (26/2/2026) siang. Aksi ini merupakan rapor merah sekaligus evaluasi terhadap satu tahun kepemimpinan Wali Kota Viman Alfarizi Ramadan dan Wakil Wali Kota Diky Candra.

Massa tiba di lokasi sekira pukul 14.40 WIB dan langsung melakukan orasi di bawah kawalan ketat pihak kepolisian. Dalam tuntutannya, massa mendesak kehadiran Viman dan Diky secara langsung untuk mendengarkan aspirasi mereka.

Kekecewaan memuncak saat diketahui duo pimpinan daerah tersebut tidak berada di tempat. Suasana sempat memanas ketika massa mencoba merangsek masuk ke dalam Bale Kota, yang memicu aksi saling dorong dengan aparat gabungan. Sebagai bentuk protes, mahasiswa kemudian melakukan aksi bakar ban di depan gerbang utama.

Massa aksi akhirnya hanya ditemui oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tasikmalaya bersama sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Setelah situasi mereda, mahasiswa memilih duduk melingkar untuk menyampaikan poin-poin aspirasi mereka kepada jajaran OPD yang hadir.

Kritik Tajam dan Ancaman Eskalasi Massa

Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Dede Firmansyah, menyatakan kekecewaannya atas absennya pimpinan daerah dalam momen krusial ini.

"Wali Kota lagi dan lagi tidak pernah menghadiri massa aksi. Padahal kita ingin berdiskusi," ujar Dede dengan nada kecewa.

Dede menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti di sini. Ia mengancam akan kembali turun ke jalan dengan jumlah massa yang lebih besar guna menindaklanjuti nota kesepakatan serta berbagai permasalahan yang melanda Kota Tasikmalaya.

"Kita akan kembali dan akan membuat gerakan lebih besar dengan eskalasi massa lebih banyak," tegasnya.

Rapor Merah: Janji Politik dan Disharmonisasi

Dalam evaluasinya, Dede menilai satu tahun kepemimpinan Viman Alfarizi belum memberikan dampak kemajuan yang signifikan bagi kota yang dijuluki Kota Santri tersebut.

"Wali Kota tidak bisa menjalankan roda pemerintahan, tidak bisa merealisasikan janji politik terhadap masyarakat yang mana Wali Kota menjanjikan 18 program kerja dan 7 program prioritas," ungkap Dede.

Selain masalah program, mahasiswa juga menyoroti buruknya komunikasi internal di tubuh Pemerintah Kota Tasikmalaya. Isu ketidakharmonisan antara Wali Kota dan Wakil Wali Kota dinilai menjadi penghambat stabilitas pemerintahan.

"Pada dasarnya kita menuntut ketika Wali Kota tidak bisa menjalankan dan menjaga stabilitas Kota Tasikmalaya, maka kita minta untuk turun. Satu kata untuk pemerintahan hari ini: Tasik teu usik," pungkasnya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement