BANJAR, NewsTasikmalaya.com – Pemerintah Kota Banjar bekerja sama dengan Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) menggelar pelatihan kalibrasi arah kiblat bagi tokoh masyarakat dan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di salah satu aula rumah makan di Kota Banjar, Rabu (14/10/2026).
Pelatihan yang diikuti sekitar 60 peserta dari unsur pengurus DKM serta perwakilan desa dan kelurahan tersebut bertujuan untuk memastikan arah kiblat di bangunan masjid, musala, maupun tempat ibadah umat Islam lainnya di Kota Banjar telah terukur secara akurat.
Wali Kota Banjar, H. Supriana, menegaskan pentingnya kegiatan pelatihan ini mengingat ketepatan arah kiblat merupakan salah satu syarat sah dalam menjalankan ibadah shalat.
“Kami ingin memastikan 100 persen arah kiblat di Kota Banjar benar sesuai dengan perhitungan. Dengan begitu, masyarakat bisa beribadah dengan lebih yakin dan tidak ragu terhadap arah kiblat,” ujar Supriana, Rabu (14/10/2026).
Guna mendukung percepatan penataan tempat ibadah, Pemkot Banjar menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi kebutuhan peralatan kalibrasi. Saat ini telah tersedia empat unit alat ukur yang siap digunakan untuk membantu proses pengukuran di lapangan.
Ke depan, Pemkot Banjar menargetkan setiap desa dan kelurahan memiliki minimal satu unit alat kalibrasi mandiri agar jangkauan pelayanan dan pemeriksaan arah kiblat di tempat-tempat ibadah dapat dilakukan secara simultan.
80 Persen Masjid Terkalibrasi, BHRD Soroti Kebiasaan Merubah Arah Kiblat
Sementara itu, Ketua BHRD Kota Banjar, H. Badar Ismail, memaparkan bahwa jumlah masjid di Kota Banjar diperkirakan mencapai 330 unit, sedangkan musala berkisar antara 200 hingga 300 unit. Dari total tersebut, estimasi masjid yang sudah dikalibrasi mencapai 80 persen, meski sebagian di antaranya belum mengantongi sertifikat resmi dan masih banyak musala yang belum tersentuh pengukuran.
“Kalau masjid, insyaallah sekitar 80 persen sudah dikalibrasi. Namun, persoalannya, setelah kami melakukan pengukuran, terkadang arah kiblatnya kembali diubah oleh masyarakat,” jelas Badar.
Badar menekankan pentingnya edukasi bagi masyarakat agar memahami bahwa penetapan arah kiblat wajib mengacu pada kaidah sains dan perhitungan astronomi yang tepat, bukan semata-mata berdasarkan asumsi atau kebiasaan lama.
Dalam sesi pelatihan tersebut, para peserta juga diperkenalkan dengan mizwala, yakni alat ukur arah kiblat berbasis bayang-bayang posisi matahari yang mampu menentukan akurasi arah secara presisi.
Mengingat jumlah alat mizwala yang ada saat ini masih terbatas, BHRD mendorong pemenuhan alat kalibrasi di tingkat desa dan kelurahan demi memperluas pembinaan keagamaan. Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat menjadi fasilitator yang meneruskan ilmunya kepada pengurus DKM dan tempat ibadah di lingkungan masing-masing.