TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya menerjunkan personel untuk melakukan asesmen (assessment) penanganan darurat pascainsiden ambruknya atap salah satu ruang kelas di SMP Negeri 17 Purbaratu, Kota Tasikmalaya, Sabtu (8/8/2026) pagi.
Proses asesmen di lokasi kejadian dipimpin langsung oleh Kasubag TU BPBD Kota Tasikmalaya, Muhammad Tantan Tibahari, S.H., didampingi jajaran petugas Regu 1 BPBD yang terdiri dari Yanto Ibnu Rawahah dan Aam Maulana.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Tasikmalaya, Budi Martanova, mengatakan bahwa ambruknya atap bangunan lantai dua tersebut dipicu oleh guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,3 yang berpusat di Pangandaran pada Rabu (5/8/2026) lalu. Peristiwa ambruknya atap sendiri terjadi pada Jumat (7/8/2026) malam sekira pukul 18.58 WIB.
"Guncangan gempa tersebut memperparah kerusakan struktur atap lantai dua bangunan yang sebelumnya memang sudah dalam kondisi retak dan lapuk. Dampaknya, atap ruang kelas 8 SMPN 17 Purbaratu roboh total," terang Budi, Sabtu (8/8/2026).
Budi membeberkan, berdasarkan hasil verifikasi lapangan oleh tim teknis, kerusakan fisik terparah menimpa satu ruang kelas 8 dengan kategori kerusakan berat. Estimasi nilai kerugian materiil akibat insiden ini ditaksir mencapai Rp200 juta hingga Rp800 juta.
Selain merobohkan atap kelas 8, guncangan gempa juga berdampak pada kerusakan struktur bangunan pendukung lainnya di sekitar lokasi.
"Rangkaian dampak gempa turut mengakibatkan ruang laboratorium IPA, ruang perpustakaan, dan ruang kesenian mengalami retakan cukup parah pada dinding serta kemiringan pada struktur atap," ungkapnya.
BPBD memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini karena insiden terjadi di luar jam aktivitas sekolah. Namun, material puing reruntuhan atap hingga Sabtu pagi masih belum dibersihkan demi keamanan asesmen lanjutan.
Guna menjaga kelancaran proses KBM, pihak sekolah telah mengalihkan kegiatan belajar mengajar para siswa ke ruang alternatif yang dipastikan aman.
"Kebutuhan mendesak saat ini di antaranya relokasi tempat belajar mengajar yang aman bagi para siswa, serta langkah percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi fisik bangunan sekolah oleh dinas terkait," pungkas Budi.