BANJAR, NewsTasikmalaya.com – Pihak manajemen RSUD Kota Banjar menjadi sorotan publik menyusul beredarnya video kritikan dari warga di platform media sosial TikTok. Kendati diterpa kritik, rumah sakit milik pemerintah daerah ini rupanya tengah berjuang menghadapi beban keuangan yang cukup berat.
Direktur RSUD Kota Banjar, drg. Eka Lina Liandari, mengungkapkan bahwa sejak awal dilantik menduduki jabatan pucuk pimpinan pada 8 Januari 2026 lalu, dirinya diwarisi beban utang hingga puluhan miliar rupiah.
"Saya menjabat per Januari itu ditinggalkan utang 22 miliar dan saldo 300 juta. Jadi saya harus memilih apa yang menjadi prioritas untuk pengembangan layanan," ujar drg. Eka saat ditemui pada Rabu (16/9/2026).
Kondisi tersebut memaksa pihak manajemen untuk ekstra cermat dalam memilah serta menentukan skala prioritas program, khususnya terkait operasional dan pengembangan layanan kesehatan kepada masyarakat.
Meski diterjang defisit anggaran, drg. Eka bersyukur lantaran RSUD Kota Banjar mendapatkan sokongan dari sejumlah program pemenuhan dan bantuan alat kesehatan (alkes).
"Alhamdulillah sekarang banyak program dan bantuan alat kesehatan. Jadi tanpa kita membeli tapi bantuan tersebut dapat men-support terkait dengan pengembangan layanan," ungkapnya.
Guna menyeimbangkan neraca keuangan, drg. Eka menegaskan bahwa pemeliharaan maupun perbaikan fasilitas gedung baru akan direncanakan secara bertahap pada tahun 2027 mendatang, setelah beban utang rumah sakit dapat ditekan secara signifikan.
"Kalau untuk renovasi terkait pemeliharaan gedung atau fasilitas kita akan melakukan insyaallah di tahun 2027 setelah utangnya agak berkurang atau tidak terlalu banyak," tegasnya.
Untuk tahun anggaran 2026, fokus utama manajemen difokuskan pada efisiensi serta optimalisasi layanan yang sudah berjalan tanpa membebani penambahan anggaran baru.
"Jadi tahun 2026, optimalisasi apa yang bisa dikembangkan tanpa ada penambahan anggaran dan akan kita bisa lakukan," tambahnya.
Usaha penataan ulang arus kas tersebut mulai membuahkan hasil. drg. Eka mencatat adanya tren positif pembayaran utang yang kini telah berkurang cukup drastis.
"Kalau untuk saat ini, kita sudah di 13 miliar itu sudah on going sampai 2026. Kalau untuk progres pembayaran, kita sudah bagus," pungkas drg. Eka.