Ikuti Kami :

Disarankan:

Gencarkan Pembelajaran STEM, Ferdiansyah Targetkan 5 Persen Guru Tasikmalaya dan Garut Ikut Program Pembelajaran Mendalam

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:10 WIB
Gencarkan Pembelajaran STEM, Ferdiansyah Targetkan 5 Persen Guru Tasikmalaya dan Garut Ikut Program Pembelajaran Mendalam
Gencarkan Pembelajaran STEM, Ferdiansyah Targetkan 5 Persen Guru Tasikmalaya dan Garut Ikut Program Pembelajaran Mendalam. Foto: Istimewa

Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah mendorong penerapan pembelajaran STEM melalui lokakarya yang diikuti guru dari berbagai jenjang pendidikan di Tasikmalaya.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui pendekatan pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) terus didorong di wilayah Priangan Timur. Salah satunya melalui kegiatan Lokakarya Pembelajaran STEM yang digelar di Ballroom Hotel Horison Tasikmalaya, Sabtu (29/8/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah dan diselenggarakan bekerja sama dengan Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Lokakarya ini diikuti para guru dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP hingga SMA/SMK di Kota Tasikmalaya. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai penerapan metode pembelajaran STEM yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam proses belajar mengajar.

Menurut Ferdiansyah, antusiasme guru terhadap program tersebut sangat tinggi. Bahkan, peserta yang ingin mengikuti kegiatan harus melalui proses seleksi terlebih dahulu karena jumlah pendaftar jauh melebihi kuota yang tersedia.

“Peserta yang mengikuti kegiatan ini harus melalui tahap seleksi terlebih dahulu. Alhamdulillah, minat para guru sangat tinggi. Satu kursi bahkan diperebutkan oleh sekitar tujuh orang pendaftar,” ujar Ferdiansyah kepada wartawan.

Ia menjelaskan, tujuan utama lokakarya adalah membekali para guru agar mampu menerapkan pembelajaran yang bersifat interdisipliner dan multidisipliner. Dengan pendekatan STEM, siswa tidak hanya belajar satu mata pelajaran secara terpisah, tetapi diajak memahami keterkaitan berbagai ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Ferdiansyah menegaskan bahwa penerapan STEM tidak selalu identik dengan teknologi canggih atau peralatan mahal. Guru dapat memanfaatkan berbagai fenomena sosial maupun benda-benda sederhana yang ada di lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran.

“STEM bukan berarti harus menggunakan teknologi yang rumit. Banyak hal sederhana yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran. Yang terpenting adalah bagaimana siswa diajak berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah,” katanya.

Ia mencontohkan, konsep matematika dapat dipelajari melalui perhitungan zakat, pajak, maupun data statistik yang ada di masyarakat. Bahkan isu sosial seperti angka pernikahan dan perceraian dapat dijadikan bahan pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan siswa.

Selain itu, berbagai barang bekas dan material sederhana juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran STEM. Misalnya penggunaan paralon untuk proyek sederhana, pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk, hingga alat-alat mekanik sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Untuk jenjang pendidikan anak usia dini, pendekatan STEM bahkan bisa diterapkan menggunakan media yang sangat sederhana, seperti ranting pohon sebagai alat bantu berhitung.

“Anak-anak TK tentu tidak belajar menghitung angka yang besar. Ranting pohon yang ada di sekitar bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar berhitung. Banyak sekali potensi di lingkungan yang bisa dijadikan sarana pembelajaran,” jelasnya.

Ferdiansyah menilai tantangan terbesar dalam penerapan STEM saat ini adalah meningkatkan pemahaman dan kesiapan guru. Karena itu, pelatihan dan lokakarya serupa perlu terus dilakukan secara berkelanjutan agar semakin banyak tenaga pendidik yang mampu menerapkan metode pembelajaran tersebut.

Sebagai bentuk komitmen, ia menargetkan sedikitnya lima persen guru di Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Tasikmalaya dapat mengikuti program pembelajaran mendalam berbasis STEM dalam beberapa tahun ke depan.

“Saya menargetkan minimal lima persen guru di Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Tasikmalaya mengikuti program pembelajaran mendalam berbasis STEM. Tentu tindak lanjutnya juga membutuhkan dukungan pemerintah daerah agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” tegasnya.

Ia berharap melalui pendekatan STEM, kualitas pembelajaran di sekolah dapat semakin meningkat dan mampu menghasilkan generasi yang kreatif, inovatif, serta siap menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan dunia kerja di masa depan.

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement