Ikuti Kami :

Disarankan:

Jamasan Pusaka di Jambansari Ciamis, Merawat Benda Peninggalan RAA Koesoemadiningrat

Minggu, 14 September 2025 | 13:23 WIB
Jamasan Pusaka di Jambansari Ciamis, Merawat Benda Peninggalan RAA Koesoemadiningrat
Jamasan Pusaka di Jambansari Ciamis, Merawat Benda Peninggalan RAA Koesoemadiningrat. Foto: NewsTasikmalaya.com/Febrian L.

Tradisi jamasan pusaka kembali digelar di Situs Budaya Jambansari, Kabupaten Ciamis, Minggu (14/9/2025). Prosesi Jamasan ini rutin dilaksanakan setiap tahun untuk merawat sekaligus melestarikan peninggalan bersejarah Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat, Bupati Galuh Ciamis periode 1839-1886.

CIAMIS, NewsTasikmalaya.com – Tradisi jamasan pusaka kembali digelar di Situs Budaya Jambansari, Kabupaten Ciamis, Minggu (14/9/2025). Prosesi Jamasan ini rutin dilaksanakan setiap tahun untuk merawat sekaligus melestarikan peninggalan bersejarah Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat, Bupati Galuh Ciamis periode 1839-1886.

Jamasan merupakan ritual pembersihan delapan pusaka peninggalan RAA Koesoemadiningrat, mulai dari Keris Betok, tombak, hingga pedang. Sebelum dimandikan, seluruh pusaka diarak dari Museum Galuh Pakuan (Pendopo Selagangga) menuju Situs Jambansari.

Pembersihan dilakukan dengan air yang diambil dari delapan mata air, antara lain Jambansari, Karangkamulyan, Pulo Majeti, Ciomas, Cakradewa Panjalu, Tumenggung Wira, Adikusuma Gunung Galuh, hingga Situs Gandoang.

Prosesi dimulai dengan doa bersama di makam RAA Koesoemadiningrat. Pusaka kemudian direndam dalam air, digosok jeruk nipis, dicelupkan ke wadah berisi air bunga, lalu dikeringkan. Setelah itu, benda pusaka diasapi dupa, diberi wangi-wangian, dan dikembalikan ke tempat penyimpanan khusus di museum.

IMG-20250914-WA0005

Ketua Yayasan Koesoemadiningrat, R. Adi Gardjita, menjelaskan, kegiatan Jamasan merupakan suatu tradisi yang sudah menjadi agenda khusus bagi keluarga Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat, tradisi jamasan tidak hanya bertujuan merawat benda pusaka, tetapi juga menjaga hubungan masyarakat dengan sejarah leluhur.

“Tujuannya agar kita bisa bersilaturahmi dengan warga Tatar Galuh sekaligus merawat peninggalan RAA Koesoemadiningrat. Supaya anak cucu kita mengetahui, ternyata di Tatar Galuh ini masih banyak budaya yang harus dilestarikan,” ujarnya.

Sekretaris Dinas Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Ciamis, Hendri Ridwansyah, menyebut prosesi ini mencerminkan kekayaan budaya Ciamis.

“Agenda jamasan pusaka di Jambansari berjalan baik, tertib, dan lancar. Ini bentuk penghargaan terhadap kekayaan budaya yang ditinggalkan leluhur Tatar Galuh,” katanya.

Hendri juga mengutip pepatah Sunda kuno hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke yang berarti “ada dahulu, ada sekarang; tidak ada dahulu, tidak ada pula sekarang”. 

Menurutnya, pepatah itu menegaskan pentingnya melestarikan tradisi sebagai warisan budaya tak benda, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Harapan kami, kegiatan ini terus dilestarikan. Kehadiran generasi muda, bahkan anak-anak, dalam prosesi ini menjadi kebahagiaan tersendiri karena budaya seperti ini harus diwariskan,” pungkasnya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement