TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com — Di tengah maraknya kemeriahan peringatan HUT ke-25 Kota Tasikmalaya dan menyongsong Hari Santri Nasional (HSN) 2026, nada keprihatinan mendalam disampaikan oleh tokoh ulama Kota Tasikmalaya, KH Muhammad Yan Yan Al-Bayani, S.Kom.I., M.Pd.
Ketua DPW FPI Kota Tasikmalaya yang juga Pimpinan Ponpes Miftahul Huda Jarnuziyyah Mangkubumi tersebut melayangkan kritik keras terhadap kinerja para pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya terkait maraknya berbagai bentuk kemaksiatan.
"Kita bangga lahir dan tinggal di Kota Tasikmalaya yang dikenal dengan julukan Kota Santri dan Seribu Pesantren. Namun hari ini kita sangat prihatin. Di kota yang menyandang nama Kota Santri ini, peredaran minuman keras (miras) dan narkoba justru marak serta merajalela. Masih pantaskah kota ini disebut Kota Santri?" ujar Kyai Yan Yan, Minggu (18/10/2026).
Selain masalah peredaran barang haram, Kyai Yan Yan menyoroti maraknya hotel, penginapan, hingga rumah indekos yang disinyalir kerap dijadikan tempat perzinahan dan praktik prostitusi. Bahkan, promosi hotel bebas membawa pasangan tidak sah marak diunggah secara terang-terangan di media sosial.
"Masih layakkah disebut Kota Santri, ataukah telah bergeser menjadi kota prostitusi?" tegasnya.
Tak berhenti di situ, rentetan aksi kekerasan jalanan oleh kelompok geng motor yang kerap menelan korban luka hingga meninggal dunia turut menjadi perhatian serius. Menurutnya, kondisi tersebut telah merenggut rasa aman dan ketenteraman masyarakat.
"Rasa aman warga terganggu. Masih cocokkah kota ini dinamakan Kota Santri, atau malah telah berubah menjadi kota gengster?" tambahnya.
Maraknya operasional tempat hiburan malam seperti karaoke hingga dini hari yang diwarnai peredaran miras di lokasi hiburan juga dinilai sangat melenceng jauh dari nilai-nilai luhur dan identitas keislaman Kota Tasikmalaya.
Ulama yang dikenal vokal menentang pekat (penyakit masyarakat) ini mempertanyakan peran, komitmen, dan kinerja para pejabat daerah dalam menegakkan aturan serta menjaga marwah Kota Tasikmalaya.
"Apa saja yang telah para pejabat lakukan? Mengapa kemaksiatan semakin merajalela di Kota Santri ini?" cetusnya.
Di akhir penyampaiannya, Kyai Yan Yan mengimbau para pemangku kebijakan di Kota Tasikmalaya agar senantiasa membuka diri, dekat dengan para ulama, serta merangkul para kasepuhan.
"Sering-seringlah berkumpul dan meminta nasihat kepada ulama agar kota ini tetap mampu menjaga nilai-nilai luhur Kota Santri dan tidak terjerembab menjadi kota miras maupun prostitusi. Jangan pernah berharap kota ini mendapat keberkahan jika para pejabatnya menjauh dari nasihat ulama," pungkasnya.