Ikuti Kami :

Disarankan:

Kemarau Panjang Sejak Mei, Warga Purbaratu Tasikmalaya Rela Antre Puluhan Galon demi Air Bersih

Kamis, 16 Juli 2026 | 21:00 WIB
Kemarau Panjang Sejak Mei, Warga Purbaratu Tasikmalaya Rela Antre Puluhan Galon demi Air Bersih
Kemarau Panjang Sejak Mei, Warga Purbaratu Tasikmalaya Rela Antre Puluhan Galon demi Air Bersih.

Dampak kemarau panjang sejak Mei 2026 membuat warga Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya kesulitan air bersih. Warga di Kampung Gareumpay terpaksa mengantre hingga membawa ratusan galon dan jerigen dari satu-satunya toren penampungan air yang tersisa akibat sumur puluhan meter milik warga mulai mengering.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Dampak kemarau panjang memaksa ratusan warga di Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan pasokan air bersih. Titik pengambilan air tersebut dipusatkan di penampungan Kampung Gareumpay, RT 05 RW 09, pada Kamis (16/7/2026).

Lokasi ini menjadi satu-satunya sumber air andalan bagi warga di empat RT di wilayah RW 09 selama musim kemarau berlangsung. Akibat krisis air bersih yang sudah melanda sejak Mei 2026, sejumlah warga dari luar RW 09 pun terpaksa ikut mengantre di lokasi tersebut.

Pantauan di lapangan menunjukkan warga berdatangan dengan membawa puluhan galon dan jerigen kosong sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan harian seperti memasak, mencuci, dan minum.

Salah seorang warga setempat, Ade Kurnia (33), mengaku harus mengangkut hingga 120 galon air sekali jalan untuk memenuhi stok kebutuhan selama dua hari ke depan.

"Tergantung kebutuhan, kadang bisa 120 galon sehari. Itu untuk dua hari, untuk berbagai kebutuhan. Saya ambil air dari awal musim kemarau, bulan Mei. Ini untuk dua keluarga, sama mertua, dan istri," kata Ade di lokasi antrean.

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir truk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya ini menyebutkan bahwa dirinya biasa mengambil air selepas pulang bekerja setiap dua hari sekali.

"Kalau 60 galon pakai motor cator sampai Magrib beres. Tapi kalau pakai motor biasa bisa sampai jam 10 malam baru selesai," ucapnya.

Ade mengungkapkan bahwa kondisi sulit ini memaksa keluarganya untuk ekstra hemat dalam menggunakan air bersih. Bahkan, aktivitas mencuci pakaian pun kini harus ditunda dan dijadwalkan ulang demi menghemat air.

"Kemarau gini cucian pun ditumpuk dulu sama istri. Nanti kalau sudah satu atau dua wadah besar baru dicuci, biar hemat air," ungkapnya.

Ia menuturkan, wilayah Purbaratu memang menjadi langganan krisis air bersih saat musim kemarau karena letak geografisnya yang berada di dataran tinggi.

"Sumur sedalam 38 meter juga kering. Kata tukang sumur, kalau mau ada air harus bor sampai 140 meter lebih," jelas Ade.

Senada dengan Ade, warga lainnya bernama Feri (48) mengaku harus bolak-balik hingga tiga kali sehari demi mencukupi kebutuhan air di rumahnya. Meskipun melelahkan, keberadaan toren penampung air di Kampung Gareumpay diakuinya sangat membantu masyarakat bertahan di tengah paceklik air.

"Sehari minimal tiga kali, bawa dua jerigen. Satu jerigen kapasitas 30 liter. Kalau hari Jumat bisa sampai tujuh kali karena jadwal nyuci. Bolak-balik begini sampai panas pinggang. Tapi bersyukur adanya penampungan di sini cukup terbantu," pungkas Feri.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement