Ikuti Kami :

Disarankan:

Kisah Pilu Kakek Nana: Tinggal di Gubuk Reot di Tengah Kota Tasikmalaya Sambil Merawat Cucu Tunawicara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:06 WIB
Kisah Pilu Kakek Nana: Tinggal di Gubuk Reot di Tengah Kota Tasikmalaya Sambil Merawat Cucu Tunawicara
Kisah Pilu Kakek Nana: Tinggal di Gubuk Reot di Tengah Kota Tasikmalaya Sambil Merawat Cucu Tunawicara. Foto: NewsTasikmalaya.com/Kristian.

Kisah pilu Nana Kustaman (74), lansia di Kahuripan Kota Tasikmalaya yang tinggal di gubuk 2x3 meter merawat cucu tunawicara. Pemkot bantu lengkapi berkas rutilahu, Kamis (29/10/2026).

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com — Di tengah hiruk-pikuk pusat Kota Tasikmalaya, kisah pilu menyelimuti kehidupan seorang lansia bernama Nana Kustaman (74). Ia harus menjalani hari-hari yang amat memprihatinkan di sebuah gubuk kecil berukuran 2x3 meter di atas puing-puing bekas rumahnya yang telah runtuh.

Warga Kampung Sindanghayu (Paledang) RT 003 RW 005, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya ini, bertahan hidup dalam serba keterbatasan bersama cucu kesayangannya, Seka (12), yang merupakan penyandang tunawicara dan tunagrahita.

Gubuk kayu beratap asbes berbalut terpal bekas tersebut berdiri di atas tanah warisan leluhurnya, tepat di dekat area pemakaman keluarga besar. Sehari-hari, Nana telaten merawat cucunya seorang diri. Dulu Nana bekerja sebagai pengayuh becak, namun kini terpaksa berhenti lantaran tak ada muatan dan harus terus mengawasi sang cucu yang kerap kabur tiba-tiba.

"Dari tahun 2003 sama cucu saja, dan kondisi cucu lagi sakit. Hanya tuna wicara doang, kalau kuping (telinga) bisa dengar," ujar Nana saat ditemui di lokasi gubuknya, Kamis (29/10/2026) siang.

Nana menuturkan bahwa Seka telah dititipkan oleh kedua orang tuanya sejak masih bayi, sebelum akhirnya ditinggalkan tanpa kabar hingga saat ini.

"Iya jaga cucu, dan saya pernah menarik becak. Orang tuanya ga tahu dimana saya juga bingung Dari kecil dititipin, katanya mau kerja dan anaknya dititip, tapi ga balik lagi sampai sekarang dan keberadaannya ga tahu ada dimana," ungkapnya.

Untuk menyambung hidup sehari-hari, Nana kerap dibantu oleh adiknya. Kondisi tempat tinggalnya pun kian memprihatinkan dari waktu ke waktu akibat tergerus cuaca.

"Dulunya rumah asal-asalan saja buat tidur aja. Kalau hujan pertama basah semua ga bisa tidur. Ada atap ini aja," tuturnya.

Sengketa Status Tanah Memenjara Bantuan Rutilahu, Pemerintah Kelurahan dan Dinsos Turun Tangan

Harapan Nana untuk memiliki tempat tinggal yang layak kini bergantung pada penyelesaian administrasi persetujuan keluarga besar terkait status tanah warisan tersebut.

"Punya tanah leluhur dan sekarang sedang di usahakan mau ngambil KTP semuanya, dan kebanyakan setuju mau dibangun. Harapannya pengennya dibangun supaya punya rumah yang layak huni saja," harap Nana.

Merespons kondisi darurat tersebut, Plt Lurah Kahuripan, Dinas Sosial, serta Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Tawang langsung menerjunkan tim ke lokasi untuk menyalurkan bantuan logistik darurat, memeriksa kesehatan Seka, serta memfasilitasi penanganan medis lanjutannya.

Plt Lurah Kahuripan, Ruswan Fladimer Sialana, membeberkan bahwa program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) bagi Nana sebelumnya sempat terkendala oleh legalitas dan kepemilikan status tanah.

"Kemarin kami disini posisi sedang mendorong untuk bisa dapat RLTH atau sejenisnya, dan juga kami minta ke RT dengan dan bapaknya juga kalau bisa minimal ada persetujuan dari keluarga yang keturunan yang memiliki tanah, biar administrasinya beres dari kami juga bisa masuk bantuan," beber Ruswan.

Ruswan menegaskan bahwa pihak kelurahan memproses secara paralel kelengkapan administrasi pertanahan sekaligus pengusulan bantuan bedah rumah agar tidak menimbulkan sengketa keluarga di kemudian hari.

"Kalau misalkan administrasinya tidak dijalankan ada pembangunan yang terjadi di sini takutnya ada yang mengakui bahwa ini bangunan punya dia atau apa, jadi makanya kami tempuh dua-duanya bantuan bedah rumah yang kami tempuh terus administrasi untuk pertanahan juga ditempuh," pungkasnya.

Pemerintah Kota Tasikmalaya memastikan bahwa Nana sejauh ini telah tercatat sebagai penerima bantuan sosial reguler seperti Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH), serta berjanji mendampingi proses renovasi huniannya hingga selesai.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin