BANJAR, NewsTasikmalaya.com - Perjalanan hidup Ai (65), warga Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat, menjadi potret nyata perjuangan warga kecil menghadapi kerasnya tekanan ekonomi dan jeratan utang harian.
Empat tahun lalu, Ai mengandalkan sebuah warung kecil untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Namun sepinya pembeli membuat modal usaha terkuras, hingga dagangan tak lagi berjalan. Dalam kondisi terdesak, meminjam uang menjadi satu-satunya jalan keluar yang dianggap paling cepat.
Awalnya, Ai meminjam uang sebesar Rp3 juta dengan cicilan Rp75 ribu per minggu. Modal tersebut sempat menghidupkan kembali warungnya. Namun cobaan kembali datang ketika suaminya jatuh sakit. Biaya pengobatan menguras seluruh tabungan, hingga akhirnya sang suami meninggal dunia. Warung yang sempat kembali berjalan pun terpaksa tutup.
Belum selesai berduka, Ai kembali diuji ketika anaknya meninggal dunia. Untuk menopang kebutuhan hidup, ia kembali meminjam uang sebesar Rp4 juta. Sejak saat itu, utang demi utang mulai menumpuk, termasuk pinjaman dari bank emok dan koperasi simpan pinjam (kosipa) dengan sistem cicilan harian yang memberatkan.
“Pinjam Rp200 ribu harus kembali Rp250 ribu dengan cicilan Rp10 ribu per hari selama 25 hari. Pinjam Rp300 ribu cicil Rp15 ribu per hari. Pinjam Rp500 ribu cicil Rp25 ribu per hari. Pusing sekali,” ungkap Ai kepada wartawan, Rabu (4/6/2026).
Tekanan cicilan yang terus datang membuat Ai merasa tak sanggup lagi bertahan. Ia akhirnya memilih bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di wilayah Kota Banjar demi melunasi seluruh utangnya.
“Lebih baik capek kerja daripada terus-terusan dikejar utang,” ujarnya.
Setelah berhasil melunasi seluruh pinjaman, Ai bertekad tidak lagi meminjam uang ke bank emok maupun kosipa. Ia pun berharap bisa kembali merintis usaha kecil untuk menopang hidupnya secara mandiri.
Harapan Ai pun sederhana, agar pemerintah lebih memperhatikan kondisi warga kecil yang rentan terjebak jeratan utang harian. “Saya ingin hidup layak tanpa harus terjebak utang,” katanya.
Kisah Ai menjadi gambaran nyata betapa rentannya masyarakat kecil terhadap praktik pinjaman dengan cicilan harian. Di tengah keterbatasan ekonomi, mereka berharap hadirnya perhatian dan solusi nyata agar dapat bangkit, mandiri, dan terbebas dari lingkaran utang.