TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com — Aroma magis seni tradisi menyelimuti Gedung Creative Center (GCC) Dadaha, Kota Tasikmalaya. Sejumlah komunitas dan pegiat seni lintas generasi berkolaborasi menggelar panggung apresiasi bertajuk "PANGAUBAN" Jilid 1, sebuah ruang pementasan yang didedikasikan khusus untuk merawat ingatan sekaligus mengenang mahakarya abadi sang maestro karawitan Sunda, (Alm) Koko Koswara atau yang karib disapa Mang Koko, Rabu (20/5/2026) malam.
Pergelaran yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB ini berfokus pada pelestarian bidang sekar (seni suara) dan eksistensi Kacapi Kawih Wanda Anyar, sebuah corak kreativitas permainan kecapi Sunda yang sangat visioner dan melompat melampaui zamannya.
Mang Koko diakui secara luas sebagai salah satu pilar utama sekaligus reformis Seni Karawitan Sunda. Karya-karya kawih ciptaannya tidak hanya menjadi kiblat bagi para seniman tradisi di tatar Jawa Barat, melainkan telah diakui keindahannya di panggung kebudayaan mancanegara.
Dalam helatan "PANGAUBAN" Jilid 1 ini, para penonton dan pencinta seni yang memadati GCC Dadaha disuguhkan penampilan memukau dari sederet repertoar lagu legendaris ciptaan Mang Koko yang sarat akan kedalaman makna filosofis.
Alunan suara (sekar) yang merdu berpadu selaras dengan dentingan magis Kecapi Wanda Anyar saat membawakan lagu-lagu abadi seperti: Angin Priangan, Hariring Nu Kungsi Nyanding, Malati di Gunung Guntur, Imut Malati, Salam Manis dan Longkewang.
Perpaduan harmonis tersebut sukses membawa atmosfer gedung pertunjukan menjadi begitu syahdu, sekaligus memantik rasa bangga atas kekayaan seni budaya lokal.
Keberhasilan panggung apresiasi ini tidak lepas dari kuatnya ikatan gotong royong (sareundeuk saigel, sabobot sapihanean) dari para seniman lokal. Diinisiasi oleh Dewan Kesenian & Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) melalui Komite Musik Tradisi, acara ini disokong penuh oleh gabungan kelompok, sanggar, dan komunitas seni papan atas di Kota Tasikmalaya.
Aliansi seni yang terlibat di antaranya Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS), Gentra Wiwitan, Gentra Mustika, Padepokan Rangga Setra, Sanggar Panghegar, Sanggar Gending Gandari, Padepokan Sabda Pangrumat, RL Studio, Kendangers Tasikmalaya, hingga keterlibatan aktif dari siswa SMK Seni Budaya Tasikmalaya.
Ketua Pelaksana Acara, Trisna Nugraha, S.Sn., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret dan komitmen panjang untuk menjaga agar warisan adiluhung tidak lapuk tergerus digitalisasi zaman.
"PANGAUBAN Jilid 1 ini adalah wadah sekaligus bukti autentik bahwa karya-karya Mang Koko tetap hidup, bernyawa, dan relevan melintasi berbagai generasi. Ini adalah urat nadi kebudayaan kita yang harus terus dirawat bersama," ujar Trisna di sela-sela kegiatan.
Melalui suksesnya gelaran perdana ini, Kota Tasikmalaya kembali mempertegas posisinya sebagai salah satu simpul epikentrum penting dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan kekayaan seni tradisi Sunda di Jawa Barat agar tetap lestari di masa depan.