TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Puluhan seniman Tasikmalaya Raya menggelar aksi teatrikal di kawasan eks Tugu Adipura, Taman Kota Tasikmalaya, Senin (2/11/2026). Aksi tersebut menjadi bentuk protes terhadap rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya membongkar sejumlah bangunan di kawasan eks Setda Kabupaten Tasikmalaya.
Bangunan yang selama 13 tahun terakhir menjadi tempat berkegiatan komunitas seni dan budaya itu terancam dibongkar untuk penataan kawasan, salah satunya sebagai area parkir dan perdagangan.
Tidak seperti aksi demonstrasi pada umumnya, para seniman menyampaikan aspirasi melalui pertunjukan seni di ruang publik. Jalan HZ Mustofa pun berubah menjadi panggung terbuka. Dentuman perkusi berpadu dengan suara klakson kendaraan yang melintas.
Salah satu adegan yang menarik perhatian adalah pertunjukan simbolik tentang kematian sosok "pemimpin buta". Adegan tersebut dimaknai sebagai sindiran terhadap penguasa yang dianggap menutup mata terhadap keberadaan dan keberlangsungan kebudayaan.
Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan prosesi rukiah terhadap sosok tersebut. Melalui simbol itu, para seniman menyampaikan harapan agar pemerintah kembali menyadari pentingnya ruang kesenian dan memberikan perhatian terhadap komunitas budaya.
Aksi semakin menarik ketika sejumlah seniman perempuan membawa perlengkapan dapur, mulai dari kompor, tabung gas, baskom hingga peralatan memasak. Mereka bahkan menggoreng makanan untuk peserta aksi di lokasi.
Aksi membawa dapur ke jalan itu menjadi simbol bahwa ketika ruang berkesenian terancam hilang, para pelaku seni harus mencari cara lain untuk mempertahankan kebersamaan dan aktivitas komunitas.
Pembina Komunitas Cermin Tasikmalaya (KCT), Ashmansyah Timutiah alias Acong, mengatakan aksi tersebut muncul secara spontan sebagai bentuk kekecewaan para pelaku seni. Menurutnya, kekecewaan itu dipicu belum adanya tanggapan dari Pemkab Tasikmalaya terhadap permohonan audiensi yang telah mereka sampaikan.
"Aksi spontan ini dipicu adanya kekecewaan para pelaku seni yang tempat ekspresinya akan diratakan. Kita sudah melayangkan permohonan audensi dengan Pemkab Tasikmalaya. Namun sejauh ini tak ada respon," ujar Acong.
Ia menjelaskan, bangunan bekas kantor Humas Setda dan Kesbangpol tersebut bukan sekadar bangunan lama. Selama belasan tahun, komunitas seni telah menghidupkan kembali kawasan yang sebelumnya kumuh dan terbengkalai menjadi ruang kreatif.
Tempat itu dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari latihan, diskusi, pameran hingga pertunjukan seni dan budaya.
Namun, keberadaan ruang kreatif tersebut kini terancam seiring rencana pembongkaran bangunan untuk penataan kawasan yang salah satunya diarahkan menjadi area parkir dan perdagangan.
Acong bersama seniman Amang S. Hidayat alias Amang Bolon bahkan menyampaikan ancaman akan menyegel Pendopo Lama yang masih digunakan Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, apabila pembongkaran tetap dilanjutkan.
Mereka menilai aset publik semestinya juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan kebudayaan dan menyediakan ruang ekspresi bagi masyarakat, bukan hanya diarahkan untuk kepentingan bisnis.
Melalui aksi teatrikal tersebut, para seniman berharap Pemkab Tasikmalaya membuka ruang dialog dan mempertimbangkan keberadaan komunitas seni sebelum rencana pembongkaran kawasan eks Setda direalisasikan.