TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Fenomena komunitas gay di Tasikmalaya kembali jadi sorotan. Setelah sebelumnya ramai grup “Gay Tasikmalaya 2017” dengan lebih dari 9.600 anggota, kini muncul lagi grup serupa bernama “Gay Tasik Ciawi Panumbangan” di media sosial Facebook.
Pantauan pada Sabtu (23/8/2025) malam, grup tersebut sudah beranggotakan 2.788 akun. Aktivitas para anggota berlangsung cukup terbuka, mulai dari mencari pasangan sesama jenis, janjian bertemu, hingga modus mengajak minum bersama.
Dalam unggahan anggota, misalnya ada yang menulis, “Orang Tasikmalaya aku di Cisayong,” atau “Mana bot sekitaran Ciawi na,” bahkan ada pula yang terang-terangan menyebut ingin “dipijat” atau mencari pasangan dengan menyebut lokasi spesifik.
Sebagian besar anggota mengaku berasal dari wilayah Kabupaten Tasikmalaya bagian utara seperti Ciawi, Rajapolah, dan Cisayong, tetapi ada pula yang dari Kabupaten tetangga, Ciamis, terutama Kecamatan Cihaurbeuti dan Panumbangan.
Kehadiran grup ini melanjutkan fenomena sebelumnya. Grup “Gay Tasikmalaya 2017” bahkan lebih besar skalanya, dengan interaksi yang masif di dunia maya. Dalam grup itu, banyak postingan vulgar hingga ajakan bertemu di berbagai titik Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.
Fenomena ini menciptakan kontras dengan citra Tasikmalaya sebagai “kota santri” yang religius. Masyarakat pun kerap kaget melihat bagaimana ruang digital dimanfaatkan terbuka oleh komunitas tersebut.
Kasus HIV Terus Meningkat
Di sisi lain, kasus HIV/AIDS di Tasikmalaya justru meningkat tajam. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, hingga pertengahan 2025 ada tambahan 95 kasus baru. Total kasus kini mencapai 1.456 orang positif HIV, dengan angka kematian sebanyak 256 jiwa.
Faktor penularan terbesar masih didominasi oleh hubungan seksual sesama lelaki (LSL). Ironisnya, kasus juga ditemukan pada pelajar, mahasiswa, hingga pekerja usia produktif.
Fenomena maraknya grup “gay” di media sosial dan meningkatnya kasus HIV/AIDS menjadi alarm sosial bagi Tasikmalaya. Di tengah label religius yang melekat sebagai kota santri, realitas digital menunjukkan adanya tantangan serius pada moral, kesehatan, dan ketahanan sosial masyarakatt.