TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya menggelar sosialisasi gizi seimbang bagi para siswa di SDN 2 Gobras dan SDN 2 Setiamulya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Jumat (7/8/2026) pagi.
Kegiatan ini diketuai oleh Prima Endang Susilowati dengan anggota dosen Asep Suryana Abdurrahman, Mufti Ghoffar, Yana Listyawardhani, dan Nisatami Husnul, serta didukung penuh oleh dua mahasiswa Program Studi Gizi Unsil.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FIK Unsil, Prima Endang Susilowati, menjelaskan bahwa sosialisasi gizi seimbang ini berbasis Behavior Change Communication (BCC) atau komunikasi perubahan perilaku yang menyasar siswa sekolah dasar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kampus Berdampak Unsil yang berfokus menumbuhkan kesadaran generasi muda sejak dini mengenai pentingnya penerapan pola makan sehat dan bergizi seimbang.
Dalam penyampaiannya, tim pengabdian menekankan tujuh pilar utama kesehatan anak, meliputi: konsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, cukup minum air putih, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, membatasi makanan cepat saji, serta istirahat yang cukup.
Adapun acuan edukasi yang digunakan berpedoman pada panduan "Isi Piringku" dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, yakni porsi setengah piring diisi oleh makanan pokok (karbohidrat) dan lauk-pauk (protein), sedangkan setengah piring lainnya diisi oleh sayur dan buah-buahan.
"Makan sehat itu pada prinsipnya harus mengikuti kaidah panduan 'Isi Piringku'. Dalam satu porsi makan harus seimbang, ada asupan sayur, buah, protein dari lauk-pauk, serta karbohidrat baik dari nasi, ubi, maupun sumber lainnya," ujar Prima saat ditemui di SDN 2 Gobras, Jumat (7/8/2026).
Dorong Perubahan Perilaku dan Modifikasi Menu Bergizi
Prima mengungkapkan, gagasan edukasi ini dilatarbelakangi oleh fenomena masih banyaknya siswa yang tidak menghabiskan makanan bergizi, terutama porsi sayur dan lauk dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Padahal makanan tersebut sudah diukur kandungan gizinya dan harus dihabiskan. Di sisi lain, anak-anak masih memiliki kebiasaan mengonsumsi camilan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) yang sangat tidak baik bagi kesehatan jangka panjang," ungkapnya.
Selain mengajarkan komposisi menu harian, tim FIK Unsil juga mengingatkan pentingnya beraktivitas fisik, minum air putih sedikitnya delapan gelas sehari, serta membiasakan cuci tangan memakai sabun sebelum makan.
Diakui Prima, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah preferensi anak-anak yang cenderung tidak menyukai sayuran karena rasa yang pahit atau aroma langu. Oleh karena itu, diperlukan kreativitas serta modifikasi olahan menu agar sayuran lebih diminati tanpa mengurangi nilai gizinya.
Ia mencontohkan sajian seperti bubur ayam atau soto yang sebenarnya kaya gizi, namun kerap kehilangan serat lantaran sayur seperti tauge sering dibuang oleh anak-anak.
"Melalui pendekatan ini, kami memberikan pemahaman mengenai manfaat gizi untuk meningkatkan konsentrasi belajar, menjaga daya tahan tubuh, serta mencegah anemia dan stunting. Kami berharap anak-anak ke depan jauh lebih sehat dan terbiasa mengonsumsi sayur dan buah," pungkas Prima.