TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com — Kedatangan keluarga dan istri dari Fiqri Legi Ansori (25) di Kamar Mayat RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, Selasa (19/5/2026) malam sekira pukul 21.00 WIB, diwarnai isak tangis histeris. Sang istri yang datang jauh-jauh dari Bandung tak kuasa menahan kesedihan saat melihat kondisi jasad suaminya yang ditemukan tewas mengenaskan di Sungai Citanduy.
Meski kondisi jenazah pemuda tersebut sudah dalam keadaan membengkak dan mulai menghitam akibat terendam air, sang istri berhasil memastikan bahwa jasad yang terbujur kaku di ruang tindakan tersebut benar-benar adalah suaminya.
Keyakinan tersebut diperkuat setelah ia mencermati detail pakaian terakhir yang melekat pada tubuh korban, terutama baju serta cincin yang masih melingkar di jari Fiqri.
Usai proses identifikasi fisik oleh pihak keluarga selesai, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tasikmalaya Kota bergerak cepat melakukan pemeriksaan. Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota, AKP Herman Saputra, memimpin langsung jalannya interogasi awal terhadap istri korban di area rumah sakit guna mengumpulkan bahan penyelidikan.
"Kami langsung memintai keterangan mendalam dari istri korban untuk bahan penyelidikan awal. Mulai dari kronologi kapan korban berangkat dari rumah di Bandung, apakah ada permasalahan pribadi tertentu sebelum pergi, dan aktivitas lainnya yang berkaitan," ujar AKP Herman Saputra di RSUD dr. Soekardjo, Selasa (19/5/2026) malam.
Diberitakan sebelumnya, Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota tengah melakukan penyelidikan mendalam guna memastikan penyebab pasti kematian Fiqri Legi Ansori. Jasad pemuda ini sebelumnya ditemukan warga dalam kondisi tersangkut di antara bebatuan cadas Aliran Sungai Citanduy, Kecamatan Purbaratu.
Langkah penyelidikan intensif ini ditempuh setelah tim medis dan Tim Inafis menemukan adanya bekas luka robek di bagian atas kepala korban saat proses pemeriksaan luar jenazah.
Hingga saat ini, pihak kepolisian menegaskan belum bisa menyimpulkan secara gegabah apakah luka tersebut merupakan indikasi tindak kekerasan pembunuhan atau murni benturan bebatuan sungai saat korban hanyut terbawa arus deras.
"Sejauh ini kita masih berkoordinasi dengan tim dokter forensik untuk menganalisis apakah meninggalnya korban akibat penganiayaan atau murni kecelakaan air. Ada bekas luka di bagian kepala atas, ini yang menjadi fokus analisa dan penyelidikan kita, apakah luka tersebut akibat hantaman benda tumpul atau benda tajam yang sengaja dilakukan oleh orang lain," jelas AKP Herman.
Herman memastikan, misteri identitas korban yang semula tanpa identitas kini sudah terang benderang berkat akurasi teknologi pelacakan sidik jari oleh Tim Inafis Polres Tasikmalaya Kota.
Berdasarkan data sekunder dan keterangan awal dari pihak keluarga, Fiqri yang sehari-hari mencari nafkah di Kota Bandung tersebut sempat pamit untuk pulang ke Tasikmalaya sebelum akhirnya hilang kabar secara misterius.
"Menurut informasi awal, korban ini memang berdomisili dan bekerja di Bandung. Dia terpantau pergi menuju Tasikmalaya pada hari Kamis, kemudian pihak keluarga mulai kehilangan kontak (lost contact) total sejak hari Jumat," pungkas AKP Herman.
Guna menyingkap tabir kematian Fiqri, pihak kepolisian mengimbau keras kepada lapisan masyarakat atau rekan sejawat yang sempat mengetahui aktivitas, pertemuan, atau komunikasi terakhir dengan korban sebelum hari Jumat, agar segera memberikan informasi kepada kepolisian setempat demi membantu proses pengungkapan kasus ini.