Ikuti Kami :

Disarankan:

Tawasul Pergerakan PMII Kota Tasikmalaya, Mengulas Sejarah Tasik Kelabu dan Mengetuk Pintu Langit Kebangkitan Spirit Perjuangan

Sabtu, 27 Desember 2025 | 13:01 WIB
Tawasul Pergerakan PMII Kota Tasikmalaya, Mengulas Sejarah Tasik Kelabu dan Mengetuk Pintu Langit Kebangkitan Spirit Perjuangan
Tawasul Pergerakan PMII Kota Tasikmalaya, Mengulas Sejarah Tasik Kelabu dan Mengetuk Pintu Langit Kebangkitan Spirit Perjuangan. Foto: Istimewa

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Tasikmalaya menggelar kegiatan refleksi sejarah dan spiritual bertajuk “Tawasul Pergerakan” pada Jumat malam (26/12/2025).

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com - Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Tasikmalaya menggelar kegiatan refleksi sejarah dan spiritual bertajuk “Tawasul Pergerakan” pada Jumat malam (26/12/2025). Kegiatan ini berlangsung khidmat di Sekretariat PC Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tasikmalaya, Kecamatan Tawang.

Acara tersebut menjadi ruang pertemuan lintas generasi antara senior PMII yang merupakan pelaku langsung peristiwa sejarah dengan kader muda generasi Z. Kehadiran para saksi sejarah memberikan bobot otentik sekaligus membangun jembatan emosional dalam merawat ingatan kolektif perjuangan.

Tawasul Pergerakan digelar bukan sekadar sebagai agenda rutin, melainkan sebagai upaya intelektual dan spiritual untuk menghidupkan kembali kesadaran atas tragedi kemanusiaan dan gerakan rakyat yang dikenal dengan sebutan “Tasik Kelabu”, peristiwa kelam yang terjadi pada 26 Desember 1996.

Mengusung tema “Mengulas Sejarah Mengetuk Pintu Langit: Bangkitkan Spirit Sejarah dalam Khidmat Pergerakan”, kegiatan ini diikuti kader dan anggota PMII dari seluruh komisariat dan rayon se-Kota Tasikmalaya.

Filosofi Tawasul dan Spirit Perjuangan

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan tawasul dan mahalul qiyam sebagai bentuk kesiapan spiritual kader PMII dalam menghadapi tantangan zaman. Nilai tawasul dipandang bukan hanya sebagai ritual, melainkan sarana merawat kesadaran kolektif dan spiritualitas perjuangan.

Ketua Pelaksana kegiatan, Eri Muhammad Ramdani, menjelaskan bahwa tema “Mengetuk Pintu Langit” merupakan panggilan eksistensial bagi kader PMII untuk kembali pada akar perjuangan dan nilai keadilan sosial.

“Tawasul Pergerakan adalah ikhtiar untuk membangkitkan kembali ghirah perjuangan. Di tengah situasi yang tampak tenang, tetapi menyimpan luka sosial, PMII harus peka melihat ketimpangan yang tersembunyi,” ujarnya.

Rekonstruksi Sejarah Tasik Kelabu 1996

Puncak acara diisi dengan diskusi sejarah yang menghadirkan dua narasumber utama, Abdul Palah, dan Yayan Sopyan. Keduanya mengulas secara rinci kronologi peristiwa 26 Desember 1996 yang berawal dari insiden di Pondok Pesantren Condong.

Pesantren Condong, yang berdiri sejak 1864 dan dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Tasikmalaya, kala itu mengalami kasus kehilangan uang santri. Penyelidikan internal mengungkap pelaku merupakan anak seorang anggota polisi berpangkat Kopral Dua. Namun, proses penyelesaian kasus tersebut justru memicu konflik besar akibat arogansi kekuasaan pada masa Orde Baru.

Upaya mediasi yang dilakukan pada 20 Desember 1996 berubah menjadi intimidasi. Puncaknya terjadi pada 23 Desember 1996, ketika rombongan pesantren yang dipimpin Ustadz Mahmud dan Ketua MUI saat itu, Ate Musodik, mendatangi polsek untuk mediasi. Di lokasi tersebut, terjadi dugaan penganiayaan terhadap ulama dan santri oleh oknum aparat.

Peran PMII dalam Gerakan Intelektual-Spiritual

Yayan Sopyan menjelaskan, bahwa gerakan PMII kala itu lahir dari tradisi intelektual yang kuat. Diskusi rutin yang digelar setiap pekan di RS Dr. Soekardjo menjadi ruang pembentukan kesadaran kritis kader PMII, termasuk terhadap kebijakan Dwi Fungsi ABRI yang dianggap merugikan masyarakat sipil.

Menanggapi kabar simpang siur tentang kondisi Ustadz Mahmud, PMII berkoordinasi dengan elemen santri untuk menggelar istigasah dan doa bersama di Masjid Agung pada 26 Desember 1996. Namun, eskalasi emosi publik yang telah lama terpendam membuat situasi sulit dikendalikan hingga berujung kerusuhan di kawasan Jalan HZ Mustofa.

Peristiwa tersebut menjadi catatan sejarah sekaligus pelajaran penting mengenai kontrol massa dan kewaspadaan terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan gerakan rakyat.

Analisis Faktor Tasik Kelabu

Diskusi semakin tajam ketika Ilham Maulana, Ketua Rayon Syariah IAIT, memaparkan tiga faktor utama yang melatarbelakangi peristiwa Tasik Kelabu, yakni faktor vertikal berupa kekecewaan masyarakat terhadap ketimpangan ekonomi, faktor horizontal berupa relasi represif aparat dengan masyarakat, serta faktor individual berupa penganiayaan terhadap tokoh agama yang menyentuh sensitivitas masyarakat Tasikmalaya yang religius.

Sementara itu, Salman Faisal, Ketua Rayon Syekh Abdul Ghorib, menegaskan bahwa di balik kerusuhan tersebut terdapat gerakan tulus menuntut keadilan, yang menjadi bagian dari rangkaian perlawanan rakyat hingga runtuhnya Orde Baru pada 1998.

Peran Perempuan dan Strategi Gerakan Masa Kini

Dalam sesi tanya jawab, Ketua KOPRI Cabang, Laila Sapitri, menyoroti peran kader perempuan pada masa itu. Para pemateri menjelaskan bahwa meski KOPRI masih dalam tahap penguatan organisasi, kader perempuan PMII berperan penting dalam sektor logistik dan dukungan lapangan.

Para narasumber juga menekankan bahwa kader PMII saat ini tidak boleh terjebak romantisme sejarah. Gerakan harus bertransformasi dengan menguasai media sosial dan media massa sebagai medan perjuangan baru, serta tetap berlandaskan kajian yang berbasis realitas sosial.

Komitmen PC PMII Kota Tasikmalaya

Menutup acara, Ketua Cabang PMII Kota Tasikmalaya, Ilham Ramdani Rahman, menegaskan komitmen kepengurusan periode 2025–2026 untuk melanjutkan semangat perjuangan para pendahulu.

“Kader PMII hari ini harus memiliki keberanian moral untuk melawan ketidakadilan. PC PMII Kota Tasikmalaya siap menjadi garda terdepan dalam mengawal keadilan dan menyuarakan kepentingan rakyat,” tegasnya.

Kegiatan Tawasul Pergerakan pun ditutup dengan keyakinan bahwa spirit 1996 akan terus hidup sebagai kompas moral PMII dalam mengawal pembangunan Kota Tasikmalaya yang lebih adil dan bermartabat.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement