Ikuti Kami :

Disarankan:

BPOM Tasikmalaya Tekankan Pentingnya Pengendalian Resistensi Antimikroba di Kota Banjar

Kamis, 20 November 2025 | 10:21 WIB
Watermark
BPOM Tasikmalaya Tekankan Pentingnya Pengendalian Resistensi Antimikroba di Kota Banjar. Foto: NewsTasikmalaya.com/Martin

Pemerintah Kota Banjar bersama Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Tasikmalaya menggelar bimbingan teknis (bimtek) pengendalian resistensi antimikroba (AMR) di Hotel Mandiri Banjar, Jawa Barat, Kamis (20/11/2025).

BANJAR, NewsTasikmalaya.com – Pemerintah Kota Banjar bersama Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Tasikmalaya menggelar bimbingan teknis (bimtek) pengendalian resistensi antimikroba (AMR) di Hotel Mandiri Banjar, Jawa Barat, Kamis (20/11/2025).

Kepala BPOM Tasikmalaya, Iltizam Nasrullah, menegaskan bahwa resistensi antimikroba merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, baik di Indonesia maupun di dunia. Menurutnya, penggunaan obat yang tidak tepat dapat memicu mikroba menjadi kebal terhadap terapi pengobatan.

Jika obat digunakan sembarangan, tidak sesuai dosis, atau tanpa resep dokter, maka mikroba akan beradaptasi dan menjadi resisten.

“Dampaknya, pengobatan menjadi semakin sulit, dosis obat harus ditingkatkan, bahkan berpotensi muncul mikroba yang tidak bisa disembuhkan dengan obat yang tersedia saat ini,” ujarnya.

Untuk mencegah hal tersebut, BPOM mendorong pemanfaatan sarana pelayanan kefarmasian secara optimal. Apoteker penanggung jawab, tenaga teknis kefarmasian, serta pemilik sarana layanan diminta bekerja sama dengan pemerintah daerah dan berbagai stakeholder terkait.

“Penggunaan antimikroba harus dilakukan secara benar, bijak, dan sesuai resep dokter. Edukasi kepada masyarakat penting agar mereka tidak sembarangan menggunakan obat,” tambah Iltizam.

Bimtek yang digelar BPOM Tasikmalaya ini diikuti oleh berbagai pihak, mulai dari apoteker, pemilik apotek, dinas kesehatan, hingga stakeholder lainnya. Melalui kegiatan ini, BPOM berharap seluruh peserta dapat memahami risiko resistensi antimikroba serta berkomitmen untuk mengendalikan penggunaan obat antimikroba di lapangan.

Resistensi antimikroba kini menjadi perhatian global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan AMR sebagai salah satu ancaman kesehatan terbesar yang dapat membuat pengobatan standar tidak lagi efektif. Kondisi tersebut berisiko meningkatkan angka kesakitan, kematian, serta membebani sistem kesehatan.

“Pengendalian AMR harus dimulai dari kesadaran bersama. Jika dilakukan secara konsisten, kita bisa mencegah munculnya mikroba resisten dan melindungi masyarakat dari ancaman kesehatan yang lebih besar,” tutup Iltizam.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement