Ikuti Kami :

Disarankan:

Kembali Terjadi, Air Kolam Warga di Tamansari Tasikmalaya Mendadak Menghitam

Senin, 22 Juni 2026 | 08:51 WIB
Kembali Terjadi, Air Kolam Warga di Tamansari Tasikmalaya Mendadak Menghitam
Kembali Terjadi, Air Kolam Warga di Tamansari Tasikmalaya Mendadak Menghitam. Foto: Istimewa

Kolam-kolam budidaya ikan milik warga di Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, terdampak fenomena air hitam yang kembali terjadi pada musim kemarau. Air kolam berubah menjadi hitam pekat dan mengeluarkan bau menyengat, menyebabkan ikan mati massal serta mencemari sungai dan sumur warga.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Warga Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, kembali dihadapkan pada persoalan lingkungan yang telah berulang selama bertahun-tahun. Puluhan kolam budidaya ikan milik warga mendadak berubah menjadi hitam pekat disertai bau menyengat, yang berujung pada kematian ikan secara massal.

Peristiwa tersebut terjadi di sejumlah wilayah yang berada di sekitar aliran sungai yang digunakan warga sebagai sumber pasokan air kolam. Selain kolam budidaya, warga juga mengeluhkan kondisi air sungai dan sumur yang ikut tercemar sehingga tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi maupun mencuci.

Warga menduga pencemaran tersebut berasal dari limbah cair atau air lindi yang mengalir ke sungai dari kawasan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciangir.

Ketua RW 07 Kampung Sinargalih, Kelurahan Tamansari, Agus Suhendar, mengatakan sedikitnya 132 kolam ikan milik warga terdampak kejadian tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 98 kolam berada di wilayah RW 07 Kampung Sinargalih dan 34 kolam lainnya berada di wilayah perbatasan Kelurahan Mulyasari.

“Hingga saat ini sudah ada beberapa warga yang melapor kepada kami. Keluhannya sama, yakni ikan di kolam mati secara tiba-tiba setelah air berubah menjadi hitam dan berbau,” ujar Agus, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, fenomena tersebut bukan kali pertama terjadi. Warga mengaku telah mengalami kejadian serupa berulang kali, terutama saat musim kemarau.

“Sejak sekitar tahun 2011 masalah ini terus berulang. Hampir setiap musim kemarau warga harus menghadapi kondisi yang sama. Kami berharap pemerintah dan instansi terkait segera menghadirkan solusi nyata agar kejadian ini tidak terus berulang,” tegasnya.

Agus menjelaskan, proses kematian ikan tidak selalu langsung terlihat karena kondisi air yang sangat keruh. Bangkai ikan baru terlihat setelah mengapung ke permukaan kolam beberapa waktu kemudian.

Akibatnya, jumlah kerugian yang dialami para peternak ikan hingga kini masih terus didata.

Salah seorang pembudidaya ikan, Anas (62), mengaku harus merelakan sebagian besar ikan peliharaannya mati. Padahal, ikan-ikan tersebut telah dipelihara sejak masih berupa benih.

“Baru beberapa bulan dipelihara. Ada gurame, nila, ikan mas dan jenis lainnya. Sebagian besar mati setelah air berubah warna. Saya terpaksa membuang ikan yang mati dan mengganti air kolam agar yang tersisa bisa bertahan hidup,” katanya.

Keluhan serupa juga disampaikan Umar (50). Ia mengaku kehilangan puluhan kilogram benih ikan berbagai jenis yang selama ini dibudidayakan di kolam miliknya.

“Malam hari kondisi air masih normal. Saat pagi hari air sudah berubah hitam pekat. Ikan terlihat lemas, seperti mabuk, lalu satu per satu mati mengambang,” ungkapnya.

Menurut Umar, kejadian tersebut mengingatkannya pada peristiwa serupa yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Ia menduga sumber pencemaran berasal dari aliran limbah yang masuk ke sungai dan kemudian mengalir ke kolam-kolam warga.

Hingga kini masyarakat masih menunggu langkah konkret dari pemerintah untuk melakukan pemeriksaan kualitas air sekaligus menghitung kerugian yang dialami para peternak ikan.

Warga berharap penanganan segera dilakukan agar pencemaran lingkungan yang berdampak terhadap mata pencaharian masyarakat tersebut tidak kembali terulang di masa mendatang.

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement