Ikuti Kami :

Disarankan:

Derita Pedagang di Blok Fashion Pasar Cikurubuk yang Kian Terpuruk, Kios Tutup Capai 40 Persen

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04 WIB
Derita Pedagang di Blok Fashion Pasar Cikurubuk yang Kian Terpuruk, Kios Tutup Capai 40 Persen
Derita Pedagang di Blok Fashion Pasar Cikurubuk yang Kian Terpuruk, Kios Tutup Capai 40 Persen. Foto: Tian K.

Pasar Cikurubuk Tasikmalaya, khususnya Blok B-II yang menjual produk fashion, kini kian sepi pengunjung. Kondisi tersebut berdampak pada banyaknya kios yang tutup dan dipasangi tulisan “Disewakan” hingga “Dijual”.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Pasar Cikurubuk Tasikmalaya, khususnya Blok B-II yang menjual produk fashion, kini kian sepi pengunjung. Kondisi tersebut berdampak pada banyaknya kios yang tutup dan dipasangi tulisan “Disewakan” hingga “Dijual”.

Pantauan di lokasi, Kamis (15/1/2026) pagi, aktivitas jual beli di Blok B-II terlihat lesu. Dari deretan kios yang ada, hanya sebagian kecil yang masih beroperasi, sementara sisanya tutup tanpa aktivitas.

Salah seorang pedagang, Undang (61), mengungkapkan bahwa tutupnya kios-kios di Blok B-II telah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir. Ia menyebut ada sejumlah faktor yang membuat pedagang memilih angkat kaki, salah satunya kenaikan retribusi di tengah kondisi pasar yang sepi.

“Kurang lebih 3 tahun ini pada tutup. Faktornya pertama kenaikan retribusi yang tanpa koordinas kepada pedagang, adanya toko modern, dan pasos pasum atau jalan yang jelek,” kata Undang saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, keberadaan toko modern di sekitar Pasar Cikurubuk turut memengaruhi omzet pedagang pasar tradisional. Ia mempertanyakan sistem penjualan toko modern yang dinilai tumpang tindih dengan pedagang kecil.

“Toko itu ngambilnya mau eceran atau grosiran, kalau memang mau grosir jangan ngajakan eceran. Terus retribusi yang naik itu harus dibarengi dengan pelayanan dari pemerintah. Jalan yang rusak itu banyak yang malas orang kesini karena becek juga,” jelasnya.

Undang berharap pemerintah tidak hanya menaikkan retribusi, tetapi juga memperbaiki fasilitas pasar dan akses jalan. Ia menyebut besaran retribusi ditarik rutin dengan sistem per kelas kios.

“Ini nya perbulan, cuma itu nya per hari, dan itu ada kelasnya juga, jadi harga beda, gimana ukuran kiosnya,” ucapnya.

Ia memperkirakan tingkat kios tutup di Blok B-II terus bertambah. “Di B2 itu dulu hampir 30 persen, mungkin sekarang udah nyampai 40 persen,” terangnya.

Hal senada disampaikan Ketua Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (HIPPATAS), H Ahmad Jahid. Ia membenarkan banyak kios dan los di Pasar Cikurubuk yang saat ini tutup karena minimnya pembeli.

“Iya beberapa tutup karena jualannya pada sepi, daripada dagang sepi, dan ada biaya tambahan mending tutup karena sepi saja,” ujar Ahmad.

Meski belum memiliki data pasti, Ahmad menyebut Blok B-II menjadi kawasan dengan tingkat kios tutup paling tinggi. “Masalah data karena ada di UPTD, kalau secara global banyak yang tutup terutama di blok B2 jualan pakaian, sendal sepatu yang mayoritas sudah tutup,” paparnya.

Untuk menghidupkan kembali Pasar Cikurubuk, HIPPATAS mengaku telah berulang kali berkoordinasi dengan dinas terkait. Menurutnya, kunci utama adalah mengembalikan jumlah pengunjung yang masuk ke area pasar.

“Itu kita solusinya tidak lain bagaimana pasar kembali ramai dengan pengunjung dan pembeli. Kalau itu ramai lagi pasti pedagang buka lagi dan semangat lagi jualan cuma itu saja solusinya sehingga bagaimana bisa meramaikan kembali pengunjung membeli masuk kedalam bukan diluar,” pungkasnya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement