TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Skema Perhutanan Sosial dalam kawasan Kelola Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDKP) terus menunjukkan manfaat nyata bagi masyarakat. Di Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, kelompok tani hutan berhasil mengembangkan budidaya kopi di bawah tegakan pinus tanpa mengganggu kelestarian hutan.
Keberhasilan tersebut ditunjukkan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Sriwanamukti yang saat ini mengelola sekitar 80 hektare lahan kopi di kawasan hutan sosial. Melalui pola agroforestri, kelompok yang beranggotakan 80 orang itu mampu menghasilkan rata-rata empat ton kopi ceri per tahun, yang kemudian diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti green bean, roasted bean, hingga kopi bubuk dengan merek Kopi Gunung Raja.
Di balik perkembangan usaha tersebut, terdapat sosok Warli Koswara, generasi penerus yang melanjutkan perjuangan sang ayah, Apong, dalam mengembangkan kopi di kawasan hutan sosial sejak tahun 2012.
Melanjutkan Warisan Apong
Bagi Warli, kopi bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan warisan keluarga yang harus terus dikembangkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat sekitar.
“Dari bapak saya belajar banyak tentang kopi. Apa yang sudah dirintis beliau sekarang kami lanjutkan. Harapannya bukan hanya bermanfaat bagi keluarga, tetapi juga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Warli, Rabu (12/8/2026).
Nama Apong sendiri sudah dikenal luas di kalangan petani kopi Tasikmalaya. Berkat dedikasinya, ia pernah meraih Juara I Petani Perkebunan Anugerah Perkebunan Jawa Barat 2024. Selain itu, kelompok yang dipimpinnya juga berhasil meraih penghargaan dari Direktorat Jenderal Perkebunan pada 2019 serta Bank Indonesia Tasikmalaya Award 2020.
Prestasi tersebut menjadi motivasi bagi Warli untuk terus mengembangkan usaha kopi yang telah dirintis keluarganya selama bertahun-tahun.
Fokus pada Kualitas dan Pemasaran
Berbeda dengan pola lama yang hanya menjual kopi dalam bentuk ceri, Warli kini mengarahkan pengembangan usaha ke sektor hilirisasi dan pemasaran produk.
Menurutnya, nilai ekonomi kopi dapat meningkat jika petani tidak hanya menjual hasil panen mentah, tetapi juga mengolahnya menjadi produk siap jual yang memiliki identitas dan nilai tambah.
“Saya melihat kopi masih memiliki peluang yang sangat besar. Tinggal bagaimana kita meningkatkan kualitas, pengolahan, dan pemasarannya. Apa yang sudah dirintis bapak jangan sampai berhenti, tetapi harus terus berkembang,” katanya.
Melalui merek Kopi Gunung Raja, kelompok tani kini mulai memperkuat branding dan memperluas jangkauan pemasaran agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Ekonomi Tumbuh, Hutan Tetap Terjaga
Salah satu keunggulan model budidaya yang diterapkan Kelompok Sriwanamukti adalah pola tanam kopi di bawah tegakan pinus. Sistem ini memungkinkan aktivitas ekonomi berjalan tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan hutan.
Warli menegaskan bahwa keberhasilan usaha kopi sangat bergantung pada kondisi hutan yang tetap terjaga.
“Bagi kami, kopi dan pinus bisa berjalan bersama. Kami mendapatkan manfaat ekonomi dari kopi, tetapi tegakan hutan tetap dijaga. Jika hutannya terpelihara, tanaman kopi juga bisa terus berkembang,” ujarnya.
Selain memberikan manfaat bagi anggota kelompok, usaha kopi tersebut juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar, mulai dari proses pemeliharaan tanaman, panen, pengangkutan hasil, hingga pengolahan kopi.
Dengan demikian, perputaran ekonomi tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga masyarakat yang terlibat dalam rantai produksi kopi.
Hadapi Tantangan Infrastruktur
Meski permintaan pasar terhadap Kopi Gunung Raja terus meningkat, Warli mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi, terutama terkait akses jalan menuju lokasi kebun.
Kondisi jalan yang belum optimal membuat proses pengangkutan hasil panen menjadi lebih sulit dan memerlukan biaya tambahan.
“Kalau akses jalan lebih baik, pengangkutan hasil panen akan lebih mudah dan biaya operasional bisa ditekan. Itu tentu akan sangat membantu usaha masyarakat,” katanya.
Selain faktor infrastruktur, kondisi cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Produksi kopi pada tahun 2025 sempat mengalami penurunan akibat tingginya curah hujan yang memengaruhi hasil panen.
Meski demikian, Warli optimistis produksi akan meningkat apabila musim kemarau berlangsung sesuai harapan. Kelompoknya bahkan menargetkan peningkatan produksi hingga 50 persen pada musim panen mendatang.
“Harapannya produksi meningkat, pasar semakin luas, dan masyarakat semakin sejahtera. Yang paling penting, hutan tetap terjaga karena dari kawasan inilah usaha kami bisa terus berjalan,” tuturnya.
Perhutanan Sosial Dorong Kesejahteraan Masyarakat
Melalui program Perhutanan Sosial, Perum Perhutani KPH Tasikmalaya memberikan akses kelola kawasan hutan kepada masyarakat sekaligus melakukan pembinaan agar kegiatan ekonomi berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan.
Administratur/KPH Tasikmalaya, Danu Prasetyo, mengatakan pihaknya terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan kawasan hutan secara produktif tanpa mengabaikan tanggung jawab menjaga kelestarian hutan.
“Kami ingin pemanfaatan kawasan hutan memberikan manfaat ekonomi yang nyata. Masyarakat dapat mengembangkan usaha, tetapi tetap memiliki tanggung jawab menjaga kawasan. Ketika masyarakat memperoleh manfaat dan hutan tetap terjaga, keduanya dapat berjalan beriringan,” ujarnya.
Selain Perhutani, pembinaan kelompok juga dilakukan bersama Cabang Dinas Kehutanan dan Balai Perhutanan Sosial untuk memperkuat kelembagaan, meningkatkan kapasitas petani, serta mendukung pengembangan usaha berbasis hutan sosial.
Kisah Apong dan Warli bersama Kelompok Sriwanamukti menjadi bukti bahwa perhutanan sosial dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan hutan tidak hanya menjadi ruang konservasi, tetapi juga sumber kehidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.