Ikuti Kami :

Disarankan:

Di Usia 4 Tahun, Abang Aqsha Buktikan Wayang Golek Tetap Hidup di Era Digital

Senin, 17 Agustus 2026 | 20:16 WIB
Di Usia 4 Tahun, Abang Aqsha Buktikan Wayang Golek Tetap Hidup di Era Digital
Di Usia 4 Tahun, Abang Aqsha Buktikan Wayang Golek Tetap Hidup di Era Digital. Foto: Istimewa

Abang Aqsha, bocah berusia 4 tahun asal Desa Gresik, Kecamatan Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi sorotan setelah tampil sebagai dalang cilik dalam pagelaran wayang golek bertajuk “Sastra Jingga Jadi Relawan”.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Di tengah maraknya penggunaan gawai, media sosial, dan permainan digital yang begitu dekat dengan kehidupan anak-anak masa kini, seorang bocah berusia empat tahun asal Kabupaten Tasikmalaya justru menunjukkan kecintaannya pada seni budaya tradisional Sunda. Bocah tersebut adalah Abang Aqsha, dalang cilik asal Dusun Lampegan, Desa Gresik, Kecamatan Jamanis.

Penampilan Abang Aqsha dalam pagelaran wayang golek dengan lakon Sastra Jingga Jadi Relawan pada Sabtu (15/8/2026) berhasil mencuri perhatian masyarakat. Di usia yang masih sangat muda, ia tampil percaya diri memainkan tokoh-tokoh wayang dan membawakan cerita yang sarat nilai budaya.

Kehadiran Abang Aqsha menjadi bukti bahwa seni tradisional tidak kehilangan tempat di hati generasi muda. Bahkan di era digital sekalipun, warisan budaya leluhur masih dapat tumbuh dan berkembang apabila mendapat dukungan dari lingkungan serta keluarga.

Pagelaran tersebut turut dihadiri oleh Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) HMI Cabang Tasikmalaya sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian seni dan budaya Sunda.

Direktur LSMI HMI Cabang Tasikmalaya, Cepi Sultoni, mengaku bangga sekaligus terharu melihat semangat yang ditunjukkan Abang Aqsha dalam melestarikan seni pedalangan sejak usia dini.

“Bahagia sekali melihat Generasi Alpha berusia empat tahun yang mau melestarikan seni budaya leluhur, khususnya seni pedalangan. Di saat banyak anak seusianya lebih fokus pada game atau media sosial, Abang Aqsha justru memanfaatkan media digital untuk menampilkan karya dan kecintaannya terhadap wayang golek,” ujar Cepi kepada NewsTasikmalaya.com, Senin (17/8/2026).

Menurutnya, Abang Aqsha tidak hanya sedang belajar menjadi seorang dalang. Lebih dari itu, ia menunjukkan bahwa generasi muda tetap bisa memiliki hubungan yang kuat dengan budaya daerahnya meskipun hidup di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Cepi menilai kemajuan teknologi tidak seharusnya dianggap sebagai ancaman bagi seni tradisional. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan budaya kepada generasi baru yang lebih dekat dengan dunia digital.

“Perkembangan zaman tidak harus membuat kita menjauh dari tradisi. Justru teknologi bisa menjadi jembatan. Wayang tidak harus berhenti di panggung. Cerita, karakter, suara, dan nilai-nilainya bisa hadir di ruang digital melalui media sosial dan berbagai platform lainnya,” katanya.

Di usia empat tahun, ketika sebagian besar anak masih menghabiskan waktu untuk bermain dan mengenal dunia sekitar, Abang Aqsha sudah mampu mengenali berbagai karakter wayang, mempelajari teknik dasar pedalangan, hingga tampil di hadapan masyarakat.

Perjalanan Abang Aqsha menjadi inspirasi bahwa pelestarian budaya bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana. Dukungan keluarga, lingkungan, dan ruang berekspresi yang positif mampu melahirkan generasi muda yang mencintai budaya bangsanya.

LSMI HMI Cabang Tasikmalaya berharap kisah Abang Aqsha dapat menjadi motivasi bagi anak-anak lain untuk mengenal dan mencintai seni budaya daerahnya masing-masing.

Menurut Cepi, Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya sebagai alat untuk menjaga dan memperkenalkan identitas budaya bangsa.

“Budaya akan tetap hidup bukan hanya karena dikenang, tetapi karena ada generasi hari ini yang mau mempelajari, menjaga, dan meneruskannya,” pungkasnya.

Keberanian dan kecintaan Abang Aqsha terhadap wayang golek menjadi secercah harapan bagi keberlangsungan seni tradisional Sunda. Di tengah derasnya arus digitalisasi, bocah asal Tasikmalaya itu membuktikan bahwa budaya lokal tetap dapat hidup, berkembang, dan dicintai oleh generasi masa depan.

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement