Ikuti Kami :

Disarankan:

Diky Candra Apresiasi Yayasan Ar-Risalah Berdayakan Ibu-ibu hingga Anak Punk Lewat Pertanian

Senin, 05 Oktober 2026 | 15:42 WIB
Diky Candra Apresiasi Yayasan Ar-Risalah Berdayakan Ibu-ibu hingga Anak Punk Lewat Pertanian
Diky Candra Apresiasi Yayasan Ar-Risalah Berdayakan Ibu-ibu hingga Anak Punk Lewat Pertanian. Foto: NewsTasikmalaya.com/Kristian

Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra mengapresiasi Yayasan Ar-Risalah Al-Islamiyah yang memberdayakan ibu-ibu sekitar dan anak punk melalui kegiatan pertanian di Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra mengapresiasi langkah Yayasan Ar-Risalah Al-Islamiyah yang turut membantu pemerintah dalam menangani persoalan sosial melalui program pemberdayaan masyarakat.

Apresiasi tersebut disampaikan Diky saat membuka pelatihan pembenihan ikan nila yang digelar di Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Senin (5/10/2026) pagi. Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) dan Yayasan Ar-Risalah Al-Islamiyah.

Menurut Diky, upaya masyarakat dalam menciptakan kegiatan produktif bagi kelompok yang membutuhkan perhatian patut didukung. Salah satunya melalui pemanfaatan lahan untuk kegiatan pertanian yang melibatkan ibu-ibu di lingkungan sekitar hingga anak punk.

"Untuk mengelola lahan pertanian yang memberdayakan ibu-ibu sekitar dan anak punk seperti Yayasan Ar-Risalah Al-Islamiyah ini tentunya patut kita apresiasi," kata Diky kepada wartawan.

Ia menilai keterlibatan masyarakat menjadi sangat penting, terutama ketika pemerintah memiliki keterbatasan dalam menangani berbagai persoalan sosial. Diky kemudian mencontohkan keberadaan Yayasan Mentari Hati yang selama ini turut membantu pemerintah dalam menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Menurutnya, berbagai kegiatan yang dilakukan masyarakat secara mandiri dapat menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan sosial di Kota Tasikmalaya.

"Dengan kondisi fiskal saat ini, Pemkot terbatas untuk melakukan banyak hal. Termasuk dalam menangani anak punk dan lainnya," ujarnya.

Diky juga mengungkapkan bahwa pemerintah masih menghadapi keterbatasan fasilitas untuk menangani masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal sementara. Ia mencontohkan masih adanya warga yang tidur di emperan toko karena belum tersedianya rumah singgah milik pemerintah.

"Ya saat ini saja kita bahkan tidak punya rumah singgah. Tapi, dengan peran serta masyarakat ini sangat membantu," bebernya.

Meski demikian, Diky menegaskan Pemerintah Kota Tasikmalaya tidak tinggal diam dalam mencari solusi terhadap berbagai persoalan sosial yang muncul di masyarakat. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menjadi salah satu kunci untuk memperluas jangkauan penanganan masalah tersebut.

Selain itu, Pemkot Tasikmalaya juga terus mendorong program pemberdayaan masyarakat. Salah satunya melalui program subsidi Kangkung dan Lele (Kang Sule) yang diberikan kepada masyarakat untuk mendukung kegiatan produktif.

"Alhamdulillah untuk pemberdayaan masyarakat meski sedikit, ada subsidi Kangkung dan Lele (Kang Sule) yang diberikan kepada masyarakat. Ini bukan dari APBD. Alhamdulillah sudah banyak yang panen. Mudah-mudahan membantu," tuturnya.

Sementara itu, perwakilan Yayasan Ar-Risalah Al-Islamiyah, Uu Badruzaman, menjelaskan bahwa terdapat empat anak punk yang saat ini ikut diberdayakan melalui kegiatan pengelolaan lahan pertanian.

Menurut Uu, keterlibatan mereka menunjukkan bahwa anak punk juga memiliki kemauan dan kemampuan untuk menjalankan kegiatan produktif apabila diberikan kesempatan dan pendampingan.

"Anak punk juga diberdayakan memiliki kemauan dan kemampuan dalam mengelola lahan yang diubah menjadi sektor pertanian. Karena sekarang sudah mulai panen, jadi bagian ibu-ibu sekitar sini yang bekerja, kalau anak punk sebelumnya saat proses awal," ungkap Uu.

Hasil panen dari lahan tersebut, lanjut Uu, belum dipasarkan secara luas karena produksi yang dihasilkan masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Kondisi harga hasil pertanian yang belum stabil juga menjadi salah satu pertimbangan.

Program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat menjadi pendekatan alternatif dalam menangani persoalan sosial. Dengan memberikan ruang bagi kelompok masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan produktif, diharapkan mereka dapat memiliki aktivitas yang lebih positif sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement