TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Jurusan Pendidikan Masyarakat (Penmas) Universitas Negeri Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya melaksanakan Program Pengabdian Berbasis Masyarakat (PPBM) di Kelurahan Mugarsari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Kamis (31/7/2025). Kegiatan ini menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Kusari sebagai mitra dalam pengembangan literasi lingkungan.
Program ini diketuai oleh Dr. Lilis Karwati, M.Pd., dengan melibatkan sejumlah dosen yaitu Ahmad Hamdan, M.Pd., Nastiti Novitasari, M.Pd., Indri Ayu Widiyanti, M.Pd., dan Rifki Pradinavika, M.Pd., serta mahasiswa Penmas Unsil: Nita Riyanti, Nurul Azmi Herdianti, dan Iqbal Fatur Rahman.
Dengan mengusung tema “Pemahaman Literasi Lingkungan melalui Program Konservasi Air”, kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, khususnya melalui teknik pengelolaan air secara berkelanjutan.
“Fokus utama kegiatan ini adalah konservasi air melalui penerapan Lubang Resapan Biopori (LRB) yang bertujuan untuk meningkatkan literasi lingkungan dan mengajak masyarakat secara aktif menerapkan teknik ramah lingkungan di kehidupan sehari-hari,” ungkap Dr. Lilis.
Ia menjelaskan, program pengabdian ini merupakan hibah internal dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsil sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pentingnya konservasi air dan pengelolaan sampah organik, yang disampaikan secara interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti sesi edukasi tersebut.
“Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan LRB di pekarangan sekitar sekretariat KWT Kusari,” tambahnya.
Program ini disambut baik oleh peserta, termasuk Ketua KWT Kusari, Dewi Suryati. Ia menilai program tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.
“Baik sekali, alhamdulillah, nambah ilmu, nambah pengalaman, apalagi ini bisa menggugah warga untuk turut menerapkan sistem pengelolaan air dan juga dapat memanfaatkan sampah organik agar bermanfaat kembali,” ujar Dewi.
Menurut Dewi, edukasi mengenai LRB sangat relevan dengan kondisi cuaca saat ini yang tidak menentu. Ia menyebut pentingnya sistem pengelolaan air berkelanjutan untuk menjaga ketersediaan air bersih.
“Sangat penting, apalagi sekarang curah hujan tidak menentu, kadang sering hujan, kadang kemarau. Jadi program ini sangat bermanfaat untuk sistem pengelolaan air berkelanjutan,” tuturnya.
Dewi juga menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program LRB tersebut. Tim pengabdian telah memfasilitasi peralatan dan bahan yang dibutuhkan, dan para anggota KWT siap mempraktikkan pembuatan lubang resapan biopori di rumah masing-masing.
“Untuk program LRB ini pasti akan berkelanjutan, kebetulan alat dan bahannya sudah diberikan dari tim pengabdian. Tentu saya dan anggota KWT lainnya akan memanfaatkannya di rumah masing-masing,” jelasnya.
Ia berharap program ini dapat memotivasi anggota KWT Kusari untuk terus menjaga kelestarian sumber daya air dan menjadi inspirasi bagi warga sekitar.
“Setelah adanya program ini, saya berharap anggota KWT Kusari lebih semangat lagi dalam pelestarian sumber daya air. Selain itu, saya juga berharap program ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat sekitar untuk menerapkan konservasi air melalui lubang resapan biopori,” pungkas Dewi.