TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com — Warisan budaya berupa Aksara Sunda terancam lenyap bukan hanya karena ditinggalkan, melainkan juga karena perlahan mulai dilupakan. Di Kota Tasikmalaya, kemampuan anak-anak dalam membaca dan menulis Aksara Sunda dilaporkan semakin menurun.
Kepala SD Negeri 1 Urug, Kecamatan Kawalu, Hj. Aan, memperkirakan bahwa saat ini hanya sekitar 10 persen siswa yang masih menguasai aksara tersebut.
"Ini tanda bahwa pelestarian Aksara Sunda tidak bisa dilakukan biasa-biasa saja lagi. Harus ada upaya serius agar warisan leluhur ini tetap hidup, bukan hanya jadi materi lomba di sekolah," ujar Aan kepada wartawan, Sabtu (29/8/2026) pagi.
Selama 14 tahun aktif sebagai juri lomba dan pelatih Aksara Sunda, Aan mendapati kendala utama berasal dari anggapan anak-anak yang menilai aksara tersebut rumit. Kendati demikian, ia menekankan bahwa Aksara Sunda bukan sekadar tulisan, melainkan identitas dan jejak sejarah masyarakat Sunda yang wajib diwariskan.
Aan berharap Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya serta Wali Kota Tasikmalaya memberikan perhatian dan dorongan nyata bagi para guru serta anak-anak yang berjuang melestarikan warisan budaya ini. Ia juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dan masyarakat agar tidak melupakan jati diri sendiri.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Rojab Riswan Taufik, menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga keberlangsungan Aksara Sunda di lingkungan sekolah dengan menjadikan minimnya literasi guru dan siswa sebagai perhatian utama.
"Kami berkomitmen menggali muatan lokal, termasuk Aksara Sunda, untuk diterapkan di sekolah," kata Rojab.
Sejumlah langkah konkret telah disiapkan, mulai dari rutin menggelar lomba, bedah kurikulum, bimbingan teknis (bimtek), hingga regenerasi guru. Dinas Pendidikan juga tengah merancang kurikulum khusus agar Aksara Sunda dapat menjadi muatan lokal resmi di Kota Tasikmalaya.