TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com - Kondisi memprihatinkan Nana Kustaman, seorang lanjut usia (lansia) yang tinggal di gubuk tidak layak huni bersama cucunya di Kota Tasikmalaya, mendapat perhatian dari sejumlah instansi pemerintah.
Merespons laporan yang beredar di masyarakat, UPTD Bidang Lanjut Usia Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Barat bersama Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jabar mendatangi kediaman Nana pada Jumat (30/10/2026).
Kunjungan tersebut turut didampingi Dinsos Kota Tasikmalaya, Dinas Kesehatan, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perwaskim), serta pihak Kelurahan Kahuripan.
Rombongan mendatangi rumah Nana di Kampung Sindanghayu (Paledang), RT 003 RW 005, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang. Di lokasi, mereka melihat langsung kondisi tempat tinggal berukuran sekitar 2 x 3 meter yang selama ini dihuni Nana bersama cucunya yang diduga memiliki kebutuhan khusus.
Dalam kunjungan tersebut, sejumlah bantuan disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga Nana.
Dinsos Kota Tasikmalaya memberikan paket sembako, sementara Dinas Kesehatan menyediakan pelayanan kesehatan serta pendampingan selama proses pemeriksaan dan perawatan cucu Nana di rumah sakit.
Adapun Bapenda Jawa Barat memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp10 juta untuk membantu penanganan kebutuhan keluarga tersebut.
Kepala UPTD Bidang Lansia Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Widhi, mengatakan kedatangan tim merupakan tindak lanjut atas laporan mengenai seorang lansia yang hidup dalam keterbatasan sambil merawat cucunya.
"Saya dapat info tadi pagi bahwa ada lansia. Dan di kami ada beberapa UPTD lain untuk anak dan sebagainnya," kata Widhi.
Cucu Nana Jalani Pemeriksaan Kesehatan
Widhi menjelaskan, setelah tiba di lokasi, tim menemukan bahwa penghuni gubuk tersebut bukan hanya seorang lansia, tetapi juga cucunya yang diduga memiliki kebutuhan khusus.
Menurutnya, cucu Nana telah dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, termasuk pemeriksaan kondisi kejiwaan. Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan penanganan lebih lanjut.
"Dan sudah dibawa ke rumah sakit dicek kesehatan kejiwaannya, nanri hasilnya apakag dirawat atau tidak, kita akan bantu ke RS Jiwa kalau tidak mampu," ucapnya.
Untuk penanganan berikutnya, Dinsos Jabar akan berkoordinasi dengan UPTD yang menangani anak penyandang disabilitas. Pihaknya juga akan menelusuri keberadaan orang tua cucu tersebut guna mengetahui kondisi keluarga dan tanggung jawab pengasuhannya.
Sementara untuk Nana, Widhi menyebutkan bahwa adik kandungnya telah menyatakan kesediaan untuk menampung sementara. Langkah tersebut dipertimbangkan karena kondisi tempat tinggal Nana dinilai tidak layak untuk dihuni.
"Kalau lansia, bahwa adiknya siap menampung sementara. Ini bukan rumah, dan tidak layak, kami bawa tim kesehatan juga," tuturnya.
Dinsos Jabar Ungkap Pernah Tangani Kasus Serupa
Saat ditanya mengenai kasus serupa di wilayah Tasikmalaya, Widhi mengakui pihaknya pernah menerima laporan kejadian yang hampir sama beberapa minggu sebelumnya.
Dalam kasus tersebut, seorang lansia memiliki empat orang anak, tetapi tidak ada yang bersedia merawatnya. Akibatnya, Dinsos harus turun tangan untuk memberikan penanganan dan tempat penampungan.
"Jadi anaknya ada empat tapi tidak mau merawat lansia tersebut dan akhirnya kami menampung mereka. Karena sebenarnta yang merawat keluarganya, biar kami tidka kesalahan," ungkapnya.
Widhi menjelaskan, Dinas Sosial Jawa Barat memiliki empat Satuan Pelayanan yang menangani persoalan anak dan lansia terlantar. Layanan tersebut terutama diperuntukkan bagi mereka yang tidak memiliki keluarga atau tidak mendapatkan perhatian dari anggota keluarganya.
Ia menambahkan, persoalan lansia terlantar kerap berkaitan dengan berbagai persoalan keluarga yang telah berlangsung sejak masa muda, termasuk persoalan hubungan dan pernikahan.
"Kasus seperti ini banyak dari diri sendiri sejak muda, sampai banyak kawin beberapa kali. Kasus ini mirip, tapi ini jadi dua, lansia dan cucunya kena gangguan mental, kita lihat dulu konsisi kesehatannya," pungkasnya.
Penanganan terhadap Nana dan cucunya kini membutuhkan koordinasi lintas instansi. Selain bantuan kebutuhan dasar, pemeriksaan kesehatan dan pendampingan sosial diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk memastikan keduanya memperoleh perlindungan serta kehidupan yang lebih layak.