Ikuti Kami :

Disarankan:

Kisah di Balik Makan Bergizi Gratis: Dimulai dari 2 Personel dan Belasan Relawan, Kini Jadi Program Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 18:53 WIB
Kisah di Balik Makan Bergizi Gratis: Dimulai dari 2 Personel dan Belasan Relawan, Kini Jadi Program Nasional
Kisah di Balik Makan Bergizi Gratis: Dimulai dari 2 Personel dan Belasan Relawan, Kini Jadi Program Nasional.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi pilar peningkatan gizi nasional ternyata memiliki sejarah awal yang unik. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, S.I.K., mengungkapkan bahwa program besar ini lahir dari tim kecil yang bergerak dalam kondisi serba terbatas namun memiliki visi yang kuat.

JAKARTA, NewsTasikmalaya.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi pilar peningkatan gizi nasional ternyata memiliki sejarah awal yang unik. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya, S.I.K., mengungkapkan bahwa program besar ini lahir dari tim kecil yang bergerak dalam kondisi serba terbatas namun memiliki visi yang kuat.

Meskipun BGN telah dibentuk melalui Perpres Nomor 83 Tahun 2024 sejak Agustus, struktur organisasinya belum sepenuhnya terisi pada fase awal.

“Sampai bulan Oktober 2024, hanya ada dua personel, yakni Kepala BGN dan Wakil Kepala BGN, didukung sekitar 15 orang relawan,” ujar Sony Sonjaya, Senin (4/5/2026).

Keterbatasan personel tidak menghambat langkah BGN. Sony menjelaskan bahwa tim kecil ini bergerak cepat membangun fondasi dengan merangkul jaringan pengusaha hingga kolega di daerah secara personal.

Menariknya, BGN tidak menggunakan istilah 'vendor' dalam kerja sama operasional yang membutuhkan biaya hampir Rp900 juta per bulan ini.

“Mereka adalah mitra, bukan vendor. Ini soal kepercayaan terhadap visi besar MBG. Kami menjelaskan konsep melalui telepon hingga pertemuan langsung untuk membangun ekosistem dapur umum dan penyediaan peralatan,” tegasnya.

Sony menekankan bahwa akurasi data adalah kunci keberhasilan distribusi gizi. BGN mengombinasikan data dari aparat kewilayahan seperti Babinsa dengan data resmi dari Dapodik, EMIS Kementerian Agama, serta BKKBN.

Untuk mengelola data tersebut secara efektif, BGN melakukan transformasi digital melalui sistem pelaporan PPMBG. Sistem ini dikembangkan untuk mengelola 100 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) perdana setelah melalui uji coba di Warung Kiara dan Bojong Koneng.

“Sistem terus dikembangkan, termasuk fitur fleet management dan Point of Production untuk memastikan distribusi berjalan efektif dan terpantau secara real-time,” jelas Sony.

Dalam tahap pengembangan saat ini, BGN mulai memperkenalkan istilah Unit Pelayanan Makan Bergizi (UPMB). Langkah ini diambil untuk menstandardisasi layanan sekaligus memperkuat sistem distribusi di seluruh wilayah Indonesia.

Perjalanan MBG membuktikan bahwa program berskala masif dapat tumbuh dari struktur yang ramping asalkan memiliki basis data yang kuat, jaringan kemitraan yang solid, serta dukungan teknologi yang tepat sasaran.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement