TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com — Hidup adalah panggung sandiwara, dan bagi Andi Purnama (40), panggung itu ia jalani dengan topeng yang berganti-ganti. Warga Kampung Mancogeh, RT 04 RW 07, Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya ini membuktikan bahwa gengsi harus dikubur dalam-dalam demi menghidupi keluarga.
Pria kelahiran 15 Agustus 1986 yang akrab disapa "Mister Andika" ini, kini dikenal sebagai salah satu seniman badut dan perintis Badut Galeri Tasikmalaya (BGT). Namun, di balik senyum jenaka topeng badutnya, tersimpan kisah perjuangan yang penuh air mata dan liku-liku kehidupan yang getir.
Awal Mula Mengenal Dunia Sulap dan Badut
Perjalanan karier Mister Andika di dunia hiburan dimulai tak lama setelah ia lulus dari SMKN 1 Tasikmalaya sekitar tahun 2003 atau 2005. Ia bergabung dengan Tasik Magic Community untuk mendalami seni sulap. Melalui komunitas ini, ia mulai berjejaring, mengikuti berbagai kompetisi di Bandung, hingga menyabet juara kedua dalam sebuah ajang pesulap. Bahkan, bakatnya sempat dilirik untuk tampil di acara Inbox SCTV bersama pesulap nasional Joe Sandy, meski saat itu terbentur masalah izin dari seniornya.
Titik balik hidupnya terjadi saat sebuah Event Organizer (EO) di Tasikmalaya menawarinya proyek hiburan badut untuk acara ulang tahun dan karnaval. Sadar akan peluang besar, Andi berguru kepada "Mang Acuy", seorang seniman badut asal Garut yang merupakan mantan anak buah pesulap legendaris Indonesia, Mister Robin.
Melalui bimbingan Mang Acuy dan relasi dengan seniman Bandung seperti Koh Simsim, Andi tidak hanya belajar bermain badut karakter, tetapi juga menguasai kemampuan make-up karakter, juggling, pantomim, hingga atraksi sepeda roda satu. Andi kemudian membeli tiga kostum badut karakter yang dilelang oleh Mang Acuy dan mulai berdiri sendiri.
Keberaniannya berbuah manis. Ia menginisiasi terbentuknya grup B.G.T, yang awalnya merupakan singkatan dari Bandung, Garut, Tasikmalaya, sebuah wadah kolaborasi lintas kota bagi para seniman pertunjukan. Seiring kesibukan rekan-rekannya di luar kota, nama tersebut bermutasi menjadi Badut Galeri Tasikmalaya (BGT). Profesi ini terbukti mampu menghidupi istrinya, Nengsih Rohimah, serta keempat anak mereka (termasuk satu anak adopsi). BGT bahkan sempat melakukan roadshow ke berbagai kota dan kabupaten serta berhasil merekrut pemuda setempat yang membutuhkan pekerjaan.
Tangis di Balik Topeng: Ngamen di Rumah Ibu Kandung
Namun, roda kehidupan berputar. Ujian terberat datang saat pandemi Covid-19 melanda. Pembatasan sosial membuat seluruh pesanan hiburan ulang tahun dan event seketika mati total. Di tengah himpitan ekonomi dan tanggung jawab memberi makan keluarga, Andi terpaksa membuang jauh-jauh urat malunya. Ia pernah bekerja sebagai debt collector panci, tetapi panggilan hati dan kebutuhan mendesak membawanya kembali ke jalanan dengan cara yang tak terduga.
"Saat orderan sepi karena Covid-19, saya terpaksa berbohong kepada istri. Pamitnya mau mengantarkan kostum badut ke teman, padahal saya pergi untuk ngamen ke kampung-kampung," kenang Andi saat ditemui pada Kamis (2/7/2026).
Andi menyiasati aksinya dengan mengendarai sepeda motor, lalu memarkirkannya di warung seolah-olah hendak mengopi. Di sanalah ia diam-diam berganti kostum badut. Kisah paling memilukan terjadi ketika rute ngamen jalannya sampai ke kampung halamannya sendiri, bahkan hingga mengetuk pintu rumah ibu kandungnya.
"Ibu saya sama sekali tidak tahu kalau di dalam kostum itu adalah anaknya. Beliau cuma bilang, 'Badut ini mirip anak saya.' Di dalam topeng, saya menangis seketika, sedih sekali. Tapi demi bertahan hidup, saya teruskan. Hari itu saya keliling dan dapat uang Rp 85 ribu," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Bangkit Lewat Jalur Bisnis Usaha Kecil
Enggan terus terpuruk di jalanan, Andi mulai memutar otak untuk membangun aset bisnis. Peluang datang dari platform Facebook, saat seorang kenalannya menggadaikan mesin steam motor, kompresor, dan alat hidrolik seharga Rp 1 juta demi biaya persalinan sang istri. Karena hingga kini mesin tersebut tidak ditebus, Andi memutuskan untuk membuka usaha steam motor.
Berawal dari sana, mimpi Andi berkembang. Ia menyewa sebidang lahan untuk memperluas usahanya menjadi bengkel tambal ban, servis motor kecil, warung kelontong, penjualan bensin eceran, hingga bisnis jual-beli sepeda motor bekas.
Perjalanan bisnisnya pun tidak instan dan mulus. Andi mengaku kerap menjadi korban penipuan, baik ditipu dalam bentuk uang maupun dikhianati oleh karyawannya sendiri yang tidak jujur hingga menyebabkan hilangnya mesin steam dan kompresor miliknya. Namun, bagi Andi, kekecewaan itu adalah ongkos berharga dari sebuah proses belajar.
Hingga kini, Kamis (2/7/2026), seluruh unit usaha kecil-kecilan milik Mister Andika masih berjalan dengan lancar di kawasan Mancogeh. Pria yang bermimpi bisa memiliki perusahaan besar untuk memberdayakan warga sekitar ini membagikan prinsip hidup yang menjadi bahan bakarnya selama ini.
"Berjuang terus, ikhtiar terus. Selagi kaki bisa melangkah, jangan diam. Selama ada peluang, selama itu baik dan halal, apa salahnya untuk dicoba. Kegagalan atau ditipu orang itu bagian dari perjalanan, yang penting kita tidak berhenti berjalan," pungkas Andi memotivasi.