Ikuti Kami :

Disarankan:

Lestarikan Warisan Leluhur, Puluhan Perajin di Citapen Landeuh Ciamis Sulap Daun Pandan Jadi Produk Bernilai Ekspor

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:56 WIB
Lestarikan Warisan Leluhur, Puluhan Perajin di Citapen Landeuh Ciamis Sulap Daun Pandan Jadi Produk Bernilai Ekspor
Lestarikan Warisan Leluhur, Puluhan Perajin di Citapen Landeuh Ciamis Sulap Daun Pandan Jadi Produk Bernilai Ekspor. Foto: Febrian Libelvalen.

Puluhan perajin di Dusun Citapen Landeuh, Ciamis, sukses mengolah daun pandan menjadi tas dan topi anyaman yang berhasil menembus pasar ekspor Turki dan Korea Selatan.

CIAMIS, NewsTasikmalaya.com – Puluhan ibu rumah tangga dan remaja putri di Dusun Citapen Landeuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Rajadesa, Kabupaten Ciamis, terus merawat warisan tradisi leluhur melalui kreasi anyaman daun pandan.

Berpusat di Bale Dusun Citapen Landeuh, para perajin menyulap tanaman pandan yang tumbuh subur di sekitar perkebunan warga menjadi aneka produk ekonomi kreatif bernilai tinggi, mulai dari sandal, tempat dokumen, tas mini, tas ransel, hingga topi.

Kepala Dusun Citapen Landeuh, Nana Suryana, mengungkapkan bahwa tanaman pandan telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat setempat sejak lebih dari tujuh dekade lalu. Namun, pemanfaatannya selama ini mayoritas sebatas diolah menjadi lembaran tikar atau samak pandan tradisional.

"Budidaya daun pandan di kampung kami sudah bertahan kurang lebih 70 tahun. Selama ini kebanyakan hanya dimanfaatkan untuk membuat tikar. Saat ini kami mendorong kelompok perajin agar daya jangkau pasarnya lebih luas dengan memproduksi beragam kerajinan turunan," ujar Nana, Sabtu (1/8/2026).

Nana mencatat sekitar 30 persen warga di wilayahnya aktif membudidayakan tanaman pandan. Guna menggenjot nilai jual produk, warga pun bertransformasi memproduksi barang-barang bernilai tambah (value-added products).

Proses pengolahan daun pandan memerlukan tahapan yang panjang dan ketelitian tinggi. Daun yang dipanen diiris (iratan) sesuai jenis produk yang akan dibuat. Untuk pembuatan tikar, ukuran iratan berkisar 0,8 hingga 1 sentimeter. Sementara untuk kerajinan tas dan topi, iratannya dibuat jauh lebih tipis dan halus, yakni sekitar 0,5 sentimeter.

"Daun yang sudah diirat kemudian direbus, direndam semalam, lalu dijemur di lokasi bersih hingga kering sempurna sebelum memasuki proses penganyaman," jelasnya.

Langkah inovasi ini terbukti berbuah manis. Berkat jaringan kolega yang bergerak di bidang perdagangan internasional, hasil anyaman warga Ciamis ini sukses menarik minat para pembeli (buyer) dari mancanegara.

"Alhamdulillah, ada rekan kami yang bergerak di bidang ekspor memperlihatkan kerajinan warga kepada *buyer* asal Turki. Mereka sangat tertarik dan akhirnya membeli produk topi anyaman pandan buatan warga," ungkap Nana.

Selain meningkatkan taraf ekonomi warga, Nana menilai budidaya pandan juga berkontribusi positif dalam menjaga kelestarian ekosistem lingkungan hidup.

"Dengan mengandalkan budidaya pandan di area perkebunan, warga tidak perlu merusak atau menebang pohon di hutan untuk mencari penghasilan tambahan. Lingkungan hidup pun tetap hijau dan terjaga," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok NTK Pandan Craft, Eti Datiah, menjelaskan bahwa kelompoknya saat ini berfokus pada produksi tas mini dan topi anyaman.

"Proses pengolahan mengubah warna daun pandan yang semula hijau menjadi putih bersih melalui tahapan merebus, merendam, dan menjemur. Di kampung kami, proses ini dikenal dengan istilah putihan," papar Eti.

Karya kelompok NTK Pandan Craft kini telah merambah berbagai kota besar di Indonesia seperti Yogyakarta, Cirebon, Bogor, hingga Bekasi, serta telah dimanfaatkan oleh konsumen di Korea Selatan.

Eti menegaskan, pembentukan kelompok ini dipicu oleh keinginan kuat merangkul generasi muda untuk melestarikan tradisi kearifan lokal yang mulai ditinggalkan seiring menurunnya permintaan tikar pandan.

"Kami ingin memberdayakan warisan leluhur. Alhamdulillah, ibu-ibu muda sekarang antusias ikut berkarya. Harapan kami sederhana, para ibu rumah tangga memiliki pendapatan sendiri untuk menopang ekonomi keluarga sekaligus menjaga warisan budaya di kampung kami," pungkas Eti.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement