Ikuti Kami :

Disarankan:

Longser Tamu Agung Memukau Penonton di Bale Kota Tasikmalaya, Dicky Candra: Banyak Pesan Moral

Minggu, 12 Juli 2026 | 11:58 WIB
Longser Tamu Agung Memukau Penonton di Bale Kota Tasikmalaya, Dicky Candra: Banyak Pesan Moral
Longser Tamu Agung Memukau Penonton di Bale Kota Tasikmalaya, Dicky Candra: Banyak Pesan Moral. Foto: Istimewa

Pertunjukan longser Tamu Agung yang digelar di Lapangan Bale Kota Tasikmalaya berhasil memikat perhatian masyarakat dan tamu undangan, termasuk Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dicky Candra.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Lapangan Bale Kota Tasikmalaya dipenuhi antusiasme masyarakat yang larut dalam pertunjukan seni tradisional Sunda bertajuk Tamu Agung, Sabtu (11/7/2026) malam.

Pementasan longser yang dikemas secara modern ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyuguhkan refleksi sosial yang mengundang pemikiran para penontonnya.

Pertunjukan yang diproduksi oleh Less Bumi dan disutradarai oleh Pongkir tersebut mengadaptasi karya klasik Revizor karangan sastrawan Rusia, Nikolai Gogol. Meski berasal dari naskah dunia, cerita yang ditampilkan berhasil diterjemahkan ke dalam nuansa lokal Sunda tanpa kehilangan esensi kritik sosial yang menjadi ruh utama pertunjukan.

Salah satu tamu yang turut menyaksikan langsung pementasan itu adalah Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra. Ia mengaku terkesan dengan kualitas pertunjukan yang mampu memadukan unsur tradisi dan hiburan dalam satu panggung yang hidup.

Menurut Dicky, kekuatan utama pertunjukan tersebut terletak pada keberhasilannya mengangkat berbagai elemen budaya Sunda secara harmonis. Tidak hanya menampilkan seni longser, acara itu juga menghadirkan musik tradisional, tari jaipong, permainan calung, hingga sentuhan musik modern yang membuat pertunjukan terasa dekat dengan berbagai kalangan.

“Pementasan ini sangat menarik karena memperlihatkan kekayaan budaya yang kita miliki. Ada musik Sunda, jaipong, calung, dan dipadukan dengan unsur kekinian sehingga menjadi tontonan yang menghibur sekaligus bermakna,” ujar Dicky. 

Lebih dari sekadar hiburan, Dicky menilai cerita yang disajikan dalam Tamu Agung menyimpan pesan moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Melalui alur cerita yang penuh satire, pertunjukan tersebut menggambarkan bagaimana manusia kerap melakukan kesalahan dan terkadang memilih jalan yang keliru dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Menurutnya, pesan yang paling kuat dari lakon tersebut adalah pentingnya keberanian untuk mengakui kesalahan dan terus melakukan perbaikan diri.

“Cerita ini mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Yang terpenting adalah bagaimana kita mau belajar, mengakui kekeliruan, lalu memperbaiki diri agar menjadi lebih baik,” katanya.

Dicky berharap pertunjukan seni seperti longser tidak hanya dipandang sebagai sarana hiburan semata, tetapi juga menjadi media pendidikan budaya dan pembentukan karakter masyarakat. Ia menilai nilai-nilai yang disampaikan melalui seni tradisional masih sangat relevan untuk menjawab berbagai tantangan sosial saat ini.

“Selain menjadi hiburan, pertunjukan seperti ini memberikan pelajaran hidup yang bisa kita ambil. Ada banyak nilai positif yang dapat dijadikan refleksi untuk memperbaiki diri dan kehidupan bermasyarakat,” ungkapnya.

Pementasan Tamu Agung menjadi bukti bahwa seni tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan kemasan yang kreatif dan pesan yang kuat, longser tidak hanya berhasil menghibur penonton, tetapi juga menghidupkan kembali kecintaan terhadap budaya lokal yang sarat nilai dan kearifan.

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement