BANJAR, NewsTasikmalaya.com – Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren di Kota Banjar memadati Lapang Bhakti Taman Kota untuk mengikuti upacara bendera peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Kamis (22/10/2026).
Selain kekhidmatan upacara bendera, perhelatan HSN tahun ini diwarnai dengan rangkaian kegiatan sosial dan penyerahan bantuan secara simbolis bagi kalangan santri. Salah satunya adalah penyaluran beasiswa pendidikan kepada 500 santri melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Banjar dengan total anggaran senilai Rp120 juta.
Ketua Peringatan Hari Santri Kota Banjar Tahun 2026, Muhammad Fadzoni Am, mengungkapkan bahwa konsep peringatan Hari Santri tahun ini mengusung nuansa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ajang defile pesantren yang biasa digelar kini digantikan dengan prosesi pemotongan 100 tumpeng dari Pemerintah Kota Banjar.
“Untuk peringatan Hari Santri ini agak berbeda karena tahun-tahun sebelumnya ada defile pesantren. Sekarang kita tiadakan, tetapi diganti dengan pemotongan tumpeng sebanyak 100 tumpeng yang disiapkan oleh Pemerintah Kota Banjar,” ujar Fadzoni saat ditemui di lokasi acara, Kamis (22/10/2026).
Fadzoni menegaskan, Hari Santri harus dijadikan momentum emas untuk memperkuat spirit para santri agar terus bertransformasi, berdaya saing, serta memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa. Menurutnya, lulusan pesantren memiliki peluang karier yang sama luasnya di berbagai instansi strategis negara.
“Harapannya, santri-santri bisa lebih berkembang dan berjaya lagi. Mereka bisa menjadi apa yang dicita-citakan, baik masuk kepolisian, TNI, kejaksaan, maupun bidang lainnya. Santri itu sama dengan semuanya,” kata Fadzoni.
Dorongan Menuju Indonesia Emas 2045 dan Pembekalan Literasi Digital
Fadzoni berpesan agar para santri tidak memelihara rasa minder dalam pergaulan global dan senantiasa terpacu dalam menuntut ilmu. Ia meyakini, elemen santri memegang peranan krusial sebagai fondasi utama menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Pesan saya untuk para santri, terus semangat belajar dan jangan menyerah. Jangan minder dengan siapa pun. Santri juga bisa menjadi generasi yang berkontribusi menuju Indonesia Emas 2045,” tegas Fadzoni.
Di tengah pesatnya laju teknologi, Fadzoni tidak memungkiri adanya dinamika tersendiri di lingkungan pondok pesantren. Kebijakan pembatasan gawai (gadget) kerap membuat sebagian santri memiliki keterbatasan akses langsung terhadap dinamika informasi digital terkini.
“Di era digital ini, memang sebagian santri di pondok pesantren tidak diperbolehkan membawa gadget. Hal itu mungkin membuat mereka sedikit kurang mendapatkan informasi terkini terkait perkembangan teknologi digital,” ungkap Fadzoni.
Meski demikian, pengurus Hari Santri bersama jajaran pengasuh pondok pesantren berkomitmen penuh untuk tetap membekali para santri dengan literasi serta wawasan teknologi digital secara sistematis. Langkah ini diambil agar santri tetap adaptif tanpa mengikis tradisi keilmuan pesantren.
“Kami dari pengurus dan setiap pondok pesantren semaksimal mungkin membekali mereka dengan ilmu pengetahuan tentang digital untuk menghadapi perkembangan zaman ke depan,” jelas Fadzoni.
“Namun, kami dari pengurus maupun pihak pondok pesantren berupaya semaksimal mungkin membekali para santri dengan ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang teknologi digital. Harapannya, mereka bisa mengikuti perkembangan zaman dan memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi tantangan di era digital ke depannya,” tambah Fadzoni.
Melalui momentum peringatan Hari Santri Nasional 2026 ini, diharapkan seluruh santri di Kota Banjar makin termotivasi untuk meningkatkan mutu pendidikan, mengasah potensi diri, serta siap menjawab tantangan peradaban digital.