TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Polsek Cihideung di bawah jajaran Polres Tasikmalaya Kota kini memiliki ikon baru yang mencolok di depan kantor mereka.
Sebuah patung Maung Lodaya berdiri gagah, menyambut siapa pun yang melintas atau datang ke Mapolsek yang berada di kawasan Jalan Pertanian, Kelurahan Cilembang, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya.
Pemasangan patung Maung Lodaya ini bukan sekadar ornamen biasa. Bagi kepolisian, khususnya di wilayah Jawa Barat, Maung Lodaya merupakan simbol filosofi yang kaya akan makna kekuatan, ketegasan, keberanian, sekaligus perlindungan terhadap rakyat.
Kapolsek Cihideung Kompol Rusdiyanto menyebut, kehadiran patung Maung Lodaya di depan Mapolsek menjadi representasi semangat dan karakter seluruh personel kepolisian di wilayahnya.
"Maung Lodaya bukan hanya simbol semata, tapi cerminan karakter anggota kami, sigap, kuat, dan berani dalam menjaga ketertiban dan keamanan, serta dekat dan melindungi masyarakat," ujar Kompol Rusdiyanto, Kamis (24/7/2025).
Menurutnya, filosofi Maung Lodaya sangat relevan dengan tugas pokok Polri yang mengedepankan prinsip Presisi, prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan.
Layaknya seekor harimau yang mengawasi wilayah kekuasaannya, polisi juga harus selalu waspada terhadap segala bentuk gangguan kamtibmas dan memberikan rasa aman bagi warganya.
Filosofi Maung Lodaya dalam Tradisi dan Kepolisian
Secara budaya, Maung Lodaya adalah simbol kekuatan dari Tanah Sunda. Dalam naskah-naskah tradisional, Lodaya digambarkan sebagai harimau yang memiliki keagungan, keteguhan hati, dan kepemimpinan yang adil.
Harimau ini bukan sekadar binatang buas, melainkan penjaga hutan dan pemimpin yang disegani.
Dalam konteks kepolisian, Maung Lodaya dimaknai sebagai penjaga masyarakat yang tak hanya gagah dan kuat, tetapi juga arif dan bijaksana.
Ia tidak menyerang tanpa sebab, tetapi ketika rakyat terancam, Maung Lodaya akan menjadi garda terdepan dalam melindungi dan menegakkan hukum.
Filosofi ini menjadi semangat bagi jajaran Polsek Cihideung dalam melayani masyarakat, tegas terhadap kejahatan, namun humanis terhadap rakyat.
Wujud Komitmen Polsek Cihideung dalam Melayani dan Mengayomi
Pemasangan patung ini juga sejalan dengan upaya memperkuat identitas lokal dan kedekatan emosional antara aparat dengan masyarakat.
Warga yang melintasi area Mapolsek kini dapat melihat patung Maung Lodaya sebagai pengingat akan kehadiran polisi yang siap siaga, tidak hanya sebagai penegak hukum, tapi juga mitra masyarakat.
"Maung Lodaya akan menjadi pengingat bagi kami setiap hari, bahwa tugas kami bukan hanya menangkap pelaku kriminal, tapi juga menjaga rasa aman, menjadi sahabat rakyat, dan hadir di tengah-tengah mereka," tambah Kompol Rusdiyanto.
Warga setempat menyambut positif inisiatif ini. Selain memperindah tampilan kantor polisi, ikon Maung Lodaya dianggap sebagai simbol kedekatan antara kepolisian dan budaya lokal.
"Bangga ada simbol Maung Lodaya di sini. Artinya polisi kita sadar akar budayanya, dan itu penting untuk makin dekat dengan masyarakat," ujar Uday, warga Kecamatan Cihideung.
Dengan berdirinya patung Maung Lodaya di depan Mapolsek Cihideung, harapannya semangat pelayanan dan pengayoman kepada masyarakat akan semakin membumi, dan polisi semakin dicintai oleh rakyat.