Ikuti Kami :

Disarankan:

Tak Hanya Ibadah, Warga Binaan Lapas Ciamis Produksi Pancing Hingga Kue Lebaran Saat Ramadan

Rabu, 11 Maret 2026 | 13:56 WIB
Tak Hanya Ibadah, Warga Binaan Lapas Ciamis Produksi Pancing Hingga Kue Lebaran Saat Ramadan
Tak Hanya Ibadah, Warga Binaan Lapas Ciamis Produksi Pancing Hingga Kue Lebaran Saat Ramadan. Foto: Febrian Libelvalen.

Bulan suci Ramadan dimanfaatkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciamis untuk memperkuat pembinaan rohani sekaligus mengasah keterampilan warga binaan. Berbagai kegiatan keagamaan hingga program kemandirian tetap berjalan selama Ramadan sebagai bagian dari proses pembinaan agar para warga binaan memiliki bekal saat kembali ke masyarakat.

CIAMIS, NewsTasikmalaya.com – Bulan suci Ramadan dimanfaatkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciamis untuk memperkuat pembinaan rohani sekaligus mengasah keterampilan warga binaan. Berbagai kegiatan keagamaan hingga program kemandirian tetap berjalan selama Ramadan sebagai bagian dari proses pembinaan agar para warga binaan memiliki bekal saat kembali ke masyarakat.

Kepala Lapas Kelas IIB Ciamis, Supriyanto, mengatakan pembinaan spiritual menjadi agenda utama selama bulan puasa. Beragam aktivitas ibadah dilaksanakan secara rutin untuk meningkatkan keimanan para warga binaan.

“Untuk kegiatan di bulan suci Ramadan ini hampir seperti biasanya. Yang pertama tentu pembinaan rohani bagi warga binaan, seperti puasa, salat tarawih, tadarus, dan kegiatan pondok pesantren,” ujar Supriyanto, Rabu (11/3/2026).

Program pesantren Ramadan tersebut digelar melalui kerja sama dengan sejumlah lembaga pendidikan, salah satunya Pondok Pesantren Darussalam. Dalam kegiatan ini, para penceramah hadir secara bergantian memberikan materi keagamaan kepada warga binaan.

“Pagi dari Darussalam, sore dari INU. Mereka memberikan ceramah kepada sekitar 20 calon pendakwah dari warga binaan,” jelasnya.

Selain kegiatan pesantren, tadarus Al-Qur’an juga menjadi agenda rutin setiap malam. Setelah salat Isya dan tarawih, para warga binaan mengikuti tadarus bersama selama kurang lebih dua jam.

“Setelah salat Isya dan tarawih, dilanjutkan tadarus kurang lebih dua jam. Setelah itu kembali ke kamar masing-masing. Sekitar pukul tiga dini hari mereka sudah bangun lagi untuk persiapan sahur dan ibadah,” katanya.

Tidak hanya pembinaan spiritual, Lapas Ciamis juga tetap menjalankan program pemberdayaan untuk meningkatkan keterampilan warga binaan. Beberapa unit produksi bahkan tetap aktif selama Ramadan.

Salah satu kegiatan yang terus berjalan adalah produksi kerajinan alat pancing yang telah memiliki kontrak kerja sama dengan sejumlah mitra di berbagai daerah.

“Pancing itu wajib dipenuhi karena sudah ada kontrak. Mitra kita dari Lampung, Pekanbaru, sampai Batam. Targetnya sekitar 1.000 kodi, sementara yang sudah diproduksi sekitar 400 lebih,” ujar Supriyanto.

Selain kerajinan, warga binaan juga memproduksi berbagai jenis kue melalui unit bakery yang permintaannya meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri.

“Bakery ini juga terus berjalan. Saat ini sudah ada sekitar 250 pesanan dan kemungkinan akan bertambah sekitar 400 lagi untuk kebutuhan Lebaran,” katanya.

Produk kue tersebut dijual dengan harga bervariasi, mulai dari sekitar Rp30.000 hingga Rp45.000 per toples.

Menurut Supriyanto, bahan yang digunakan merupakan bahan berkualitas agar cita rasa dan kualitas produk tetap terjaga.

“Bahannya premium semua supaya kualitasnya tetap terjaga,” jelasnya.

Supriyanto berharap program pembinaan spiritual dan pelatihan keterampilan ini mampu memberikan bekal nyata bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat.

“Harapan kami, orang yang pernah melakukan kesalahan dan masuk penjara bisa keluar menjadi lebih baik. Minimal mereka punya keterampilan dan kemandirian sehingga tidak menyusahkan masyarakat atau pemerintah,” ujarnya.

Salah seorang warga binaan perempuan, Bunga (35), mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti program pelatihan bakery di dalam lapas. Ia kini terlibat dalam produksi kue kering untuk memenuhi pesanan menjelang Lebaran.

“Di sini kita belajar baking untuk pembuatan kue kering, khususnya untuk persiapan Lebaran. Kalau di hari biasa biasanya bikin roti-roti,” ujarnya.

Saat ini terdapat tujuh warga binaan perempuan yang terlibat dalam pembuatan kue tersebut. Mereka memproduksi beberapa jenis cookies, seperti palm cheese cookies dan cornflakes cookies.

“Untuk sesi Lebaran ini rencananya ada tiga jenis cookies, tapi sekarang kita fokus bikin dua dulu,” katanya.

Ia mengaku sebelumnya tidak memiliki pengalaman membuat kue. Namun keterampilan yang diperolehnya selama menjalani pembinaan di lapas menjadi bekal berharga untuk masa depan.

“Sebelumnya tidak ada pengalaman, belajar di sini. Mudah-mudahan nanti kalau sudah di luar bisa mengaplikasikan kegiatan yang dipelajari di sini,” ujarnya.

Ia berharap keterampilan tersebut bisa menjadi modal untuk membuka usaha kecil setelah bebas nanti. “Insyaallah nanti kalau sudah keluar ingin coba bikin usaha sendiri di rumah,” ungkapnya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement