TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus bekerjasama dengan Komisi X DPR RI menggelar Workshop Transformasi Pembelajaran Berbasis Teknologi. Kegiatan yang mengusung pendekatan Deep Learning ini dilaksanakan di Ballroom Hotel Horison Tasikmalaya, Jumat (1/5/2026) pagi.
Workshop ini bertujuan untuk menguatkan karakter dan etika digital di kalangan pendidik. Acara tersebut dihadiri oleh ratusan guru, tenaga kependidikan, serta pemangku kepentingan pendidikan, termasuk Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Wilayah XII Tasikmalaya, Zhairy Aanshryanto, S.Pd., M.MPd.
Direktur GTK Dikmen Diksus Kemendikdasmen RI, Arif Jamil Muis, S.Pd., M.Pd, menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi peradaban yang tidak boleh hanya dihitung sebagai pengeluaran finansial semata.
"Pendidikan adalah investasi kemanusiaan. Transformasi ini sangat bergantung pada guru-guru yang berada di dalam kelas. Kami ingin perubahan pendidikan benar-benar dimulai dari garda terdepan, yaitu interaksi guru dan murid," ujar Arif.
Anggota Komisi X DPR RI, H. Ferdiansyah, SE., MM, menjelaskan bahwa Deep Learning (pembelajaran mendalam) bukanlah kurikulum baru, melainkan metode pendekatan untuk mengefektifkan peran guru dan kepala sekolah.
Metode ini menitikberatkan pada olah pikir, olah raga, dan olah rasa agar proses mengajar menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi siswa.
"Ini adalah pendekatan baru agar masyarakat dan dunia pendidikan lebih terbuka serta adaptif. Guru harus mampu mengajar dengan cara yang lebih mendalam dan substantif," kata Ferdiansyah.
Ia berharap para peserta workshop dapat menularkan ilmu yang didapat kepada rekan sejawat lainnya secara berkesinambungan. Ferdiansyah juga mengapresiasi komitmen Direktorat GTK yang berencana menjadikan kegiatan ini sebagai agenda rutin di masa mendatang.
Sebagai anggota legislatif, Ferdiansyah menegaskan komitmennya untuk terus mengawal program ini dari sisi penganggaran. Guna memastikan program tetap berjalan di tengah tantangan fiskal, ia mengusulkan format kegiatan yang lebih efisien.
"Dorongan dari DPR RI pastinya dari sisi anggaran. Kami akan mencoba format blended, yakni 50 persen offline dan 50 persen online, agar jangkauan transformasi digital ini lebih luas namun tetap efisien secara anggaran," pungkasnya.