TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Sekitar 1.000 kios dan los di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, dilaporkan tidak lagi beroperasi. Kondisi tersebut diakui pihak pengelola sebagai salah satu tantangan serius yang tengah dihadapi pasar tradisional terbesar di wilayah Priangan Timur itu.
Kepala UPTD Pasar Cikurubuk, Deri Herlisana, menyebut dari total 2.772 kios dan los yang tersebar di atas lahan seluas 4,4 hektare, sekitar 30 persen di antaranya saat ini tutup.
“Jumlah keselurahan kios dan los di Pasar Cikurubuk itu ada 2.772. Yang tutup sekitar 30 persen atau dikisaran 1.000 kios yang tutup,” kata Deri saat ditemui di Kantor UPTD Pasar Cikurubuk, Kamis (12/1/2026).
Menurut Deri, tutupnya ribuan kios dan los tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah menurunnya daya beli masyarakat, serta perubahan pola belanja yang kini bergeser ke pasar daring.
“Kios yang tutup akibat beberapa faktor yakni daya pembeli, pasar online, kedua di samping kita juga ada kompetitor dengan pasar tradisional,” jelasnya.
Ia juga menyinggung keberadaan kompetitor berupa pasar modern yang lokasinya berdekatan dengan pasar tradisional. Namun, Deri mengaku belum memahami secara detail regulasi yang mengatur jarak dan keberadaan usaha tersebut.
“Kalau secara regulasi saya kurang paham, karena regulasi sesuai aturan pemerintah pusat melalui NIB sebagai perusahaan. Ketentuannya tidak tahu boleh atau tidak,” ungkapnya.
Terkait retribusi pedagang, Deri menegaskan bahwa besaran tarif telah disesuaikan dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2024. Tarif retribusi naik dari Rp300 menjadi Rp500 per meter persegi.
“Kurang lebih di bawah Rp200 ribu per bulan, karena luasnya berbeda-beda setiap kios dan los itu harganya beda,” terangnya.
Deri menilai, sepinya pengunjung Pasar Cikurubuk tidak semata-mata disebabkan kondisi infrastruktur pasar. Menurutnya, faktor kenyamanan dan perubahan karakter konsumen juga berpengaruh besar.
“Karena ingin suatu kenyamanan, pengunjung lebih banyak ke pasar modern. Apalagi anak gen Z, karena yang ke pasar tradisional itu manula rata-rata dan jarang orang masih muda ikut ke pasar,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa kondisi sarana dan prasarana Pasar Cikurubuk memang belum sepenuhnya mendukung kenyamanan pengunjung.
“Memang betul kalau lihat sisi di lapangan, infrastruktur belum bisa memberikan kenyamanan bagi masyarakat, khususnya sarana dan prasarana,” tambahnya.
Ke depan, UPTD Pasar Cikurubuk berharap penataan pedagang dan peningkatan infrastruktur dapat direalisasikan pada tahun 2026.
“Harapan kami di 2026 akan dilakukan penataan pedagang supaya tidak terlihat kumuh, karena kami masih memproses fasos dan fasum di Pasar Cikurubuk karena belum ada peralihan,” pungkasnya.