Ikuti Kami :

Disarankan:

WMU Siap Jadi Produsen Telur Cage-Free Terbesar di Asia Tenggara, Targetkan Kapasitas 500 Ribu Ekor pada 2027

Senin, 22 Juni 2026 | 18:27 WIB
WMU Siap Jadi Produsen Telur Cage-Free Terbesar di Asia Tenggara, Targetkan Kapasitas 500 Ribu Ekor pada 2027
WMU Siap Jadi Produsen Telur Cage-Free Terbesar di Asia Tenggara, Targetkan Kapasitas 500 Ribu Ekor pada 2027.

PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU) secara agresif membidik posisi sebagai produsen telur cage-free (bebas kandang sekat) terbesar di Asia Tenggara dengan target peningkatan kapasitas populasi ayam petelur mencapai 500 ribu ekor pada tahun 2027.

JAKARTA, NewsTasikmalaya.com - Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat, aman, dan ramah terhadap kesejahteraan hewan (animal welfare) terus menunjukkan tren positif. Perkembangan ini mendorong permintaan telur bebas kandang sekat (cage-free egg) tumbuh konsisten, sehingga memicu sejumlah produsen untuk melakukan ekspansi. PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU) menjadi salah satu emiten yang paling agresif menangkap peluang tersebut.

WMU menargetkan peningkatan kapasitas peternakan telur cage-free secara bertahap dari populasi saat ini yang berkisar 200 ribu ekor ayam petelur menjadi 500 ribu ekor pada tahun 2027. Melalui target ekspansi tersebut, WMU berpotensi mengukuhkan posisinya sebagai produsen telur cage-free terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Direktur Marketing WMU, Tri Mahawijaya Herlambang, mengungkapkan bahwa pertumbuhan pasar komoditas ini tidak hanya dipicu oleh kebijakan perusahaan makanan multinasional saja. Saat ini, para pelaku usaha dan korporasi lokal di dalam negeri juga sudah mulai masif beralih menggunakan telur cage-free.

"Dari populasi saat ini sekitar 200 ribu ekor ayam petelur menjadi 500 ribu ekor yang ditargetkan selesai pada 2027. Kami menyiapkan kapasitas produksi sejak sekarang agar siap mengantisipasi lonjakan permintaan yang dapat terjadi sewaktu-waktu," ujar Mahawijaya di Jakarta, Senin (22/6/2026) sore.

Saat ini, produksi telur cage-free milik WMU sebagian besar diserap oleh pasar Business-to-Business (B2B) untuk menyuplai kebutuhan industri katering, hotel, restoran, hingga jaringan gerai cepat saji. Menatap prospek ke depan, WMU juga tengah mempersiapkan produk telur cage-free kemasan khusus untuk merambah pasar ritel modern.

"Pengembangan ini bukan untuk menggantikan pasar yang sudah ada, melainkan membuka segmen baru dengan nilai tambah (value added) yang lebih tinggi. Langkah ini sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap keberlanjutan (sustainability), keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan," tegas Mahawijaya.

Langkah ekspansif WMU ini mendapat apresiasi positif dari Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto. Sandi menyebutkan, saat ini sudah ada lebih dari dua ribu perusahaan makanan global yang berkomitmen 100 persen menggunakan telur cage-free, termasuk jaringan internasional seperti KFC, Burger King, Hyatt, Marriott, dan Swiss-Belhotel International di Indonesia.

"Perusahaan domestik seperti Super Indo, Ismaya Group, Bali Buda, dan Jiwa Jawi juga sudah mulai bertransisi," ungkap Sandi.

Potensi pasar ini diperkuat oleh hasil survei GMO Research yang menunjukkan bahwa 55 persen konsumen di Indonesia lebih memilih merek yang berkomitmen menggunakan telur *cage-free*. Selain itu, sebanyak 72 persen konsumen setuju bahwa perusahaan kuliner wajib menggunakan telur dari peternakan yang menerapkan standar kesejahteraan hewan yang baik.

Dari sisi higienitas, studi yang dirilis oleh European Food Safety Authority (EFSA) mencatat bahwa risiko kontaminasi bakteri Salmonella pada peternakan sistem cage-free justru 25 kali lebih rendah jika dibandingkan dengan kandang baterai konvensional. Momentum ekspansi WMU ini juga dinilai sangat tepat karena berjalan beriringan dengan regulasi pemerintah pasca-diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan.

"Kami berharap langkah konkret dari WMU ini dapat menginspirasi lebih banyak produsen telur di Indonesia untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi transformasi kebutuhan pasar yang terus berkembang," pungkas Sandi.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement