YOGYAKARTA, NewsTasikmalaya.com – Sistem produksi ayam petelur cage-free mulai mendapat perhatian lebih besar dari pelaku industri perunggasan nasional. Selain menjawab perubahan preferensi konsumen, sistem ini dinilai mampu membuka peluang bisnis baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi serta mendukung praktik usaha yang berkelanjutan.
Pandangan tersebut mengemuka dalam forum Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry yang digelar di Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 150 peserta yang terdiri atas pelaku industri, peternak, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan sektor perunggasan.
Layer Farm Manager WMU, Ir. Arif Afiata Rahmat, mengatakan bahwa penerapan sistem cage-free tidak hanya berkaitan dengan perubahan metode pemeliharaan ayam, tetapi juga merupakan strategi bisnis yang memiliki prospek jangka panjang.
"Cage-free perlu dilihat sebagai model bisnis berkelanjutan yang mampu mempertahankan produktivitas sekaligus menghasilkan telur berkualitas sesuai dengan permintaan konsumen," kata Arif, Sabtu (3/10/2026).
Sebagai bentuk komitmen terhadap pengembangan sistem tersebut, WMU saat ini tengah meningkatkan populasi ayam petelur cage-free dari 200.000 ekor menjadi 500.000 ekor pada 2027. Dengan target itu, WMU diproyeksikan menjadi produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara.
Forum ini diselenggarakan oleh Level Foundation bersama PINSAR Indonesia, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), dan ASOHI Jogja dalam rangkaian peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN).
Dalam diskusi, para narasumber membahas berbagai aspek yang diperlukan untuk mendukung pengembangan sistem cage-free, mulai dari teknologi kandang, manajemen pemeliharaan, hingga strategi nutrisi.
Sales Specialist Kaleter, drh. Kokot Februhadi, menjelaskan bahwa saat ini tersedia beragam pilihan teknologi yang dapat diterapkan, seperti floor system, aviary, hingga mobile house, sehingga proses transisi menuju sistem cage-free menjadi lebih mudah.
"Seiring dengan semakin berkembangnya sistem produksi ayam petelur cage-free dan semakin banyaknya pilihan peralatan yang tersedia, proses transisi menjadi lebih mudah dan semakin menarik bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar cage-free," ujarnya.
Sementara itu, Nutritionist DMC, drh. Henri E. Prasetyo, menekankan pentingnya pendekatan nutrisi yang berbeda dibandingkan sistem kandang konvensional. Menurutnya, ayam yang dipelihara secara cage-free memiliki tingkat aktivitas yang lebih tinggi sehingga membutuhkan strategi pakan yang lebih spesifik.
"Strategi nutrisi perlu mempertimbangkan tingkat aktivitas ayam yang lebih tinggi, kesehatan kaki dan kerabang telur, serta peluang menghasilkan telur dengan kualitas dan nilai fungsional yang lebih baik melalui pendekatan precision nutrition," ungkapnya.
Dari sisi kualitas produk, riset yang dilakukan WMU menunjukkan bahwa telur hasil sistem cage-free memiliki kandungan karoten, Omega-3, Omega-9, DHA, dan protein yang lebih tinggi dibandingkan telur yang dihasilkan dari sistem kandang baterai.
Potensi pasar juga dinilai cukup besar. Berdasarkan survei GMO Research 2025, sebanyak 81 persen konsumen Indonesia berpendapat ayam petelur sebaiknya dipelihara dengan sistem cage-free. Selain itu, 55 persen responden mengaku lebih tertarik berbelanja di restoran maupun supermarket yang hanya menggunakan telur cage-free.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sistem cage-free tidak hanya menjadi isu kesejahteraan hewan, tetapi juga mulai berkembang sebagai peluang bisnis yang menjanjikan bagi industri perunggasan nasional.