TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Gelaran olahraga bertajuk Tournament Tarkam Padel Vol 3 sukses dilaksanakan di Sirkle Arena, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, pada Sabtu (18/7/2026) malam. Kompetisi yang menyedot perhatian pencinta olahraga raket ini resmi ditutup setelah merampungkan fase sengit babak semifinal hingga grand final.
Ajang bergengsi tingkat lokal ini dibuka dan dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra, didampingi Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Tasikmalaya, Deddy Mulyana.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Agie Apriadi, menjelaskan bahwa turnamen antarkampung (tarkam) padel edisi ketiga ini diikuti oleh sedikitnya 160 peserta. Kuantitas tersebut diklaim melonjak tajam sekaligus melampaui target awal yang ditetapkan oleh pihak manajemen panitia.
"Ini merupakan turnamen tarkam padel yang ketiga kalinya kami gelar. Alhamdulillah, jumlah animo peserta di setiap event terus mengalami peningkatan yang signifikan. Untuk edisi kali ini, sebaran peserta didominasi dari wilayah Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis," ungkap Agie kepada wartawan di sela-sela laga final.
Melihat antusiasme yang luar biasa tersebut, Agie menambahkan bahwa komunitasnya kini tengah menyusun rencana matang untuk segera menyelenggarakan turnamen edisi keempat dalam waktu dekat.
"Tujuan utama kami adalah membentuk ekosistem komunitas olahraga yang solid dan wadah positif bagi para pemain. Terlebih, potensi olahraga padel di Tasikmalaya terus berkembang pesat. Istilahnya, kami tergerak untuk menyatukan mereka dalam wadah kompetisi yang kompetitif," imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra, memberikan pandangan positif terhadap perkembangan olahraga padel. Menurutnya, padel tidak hanya sekadar olahraga yang menyehatkan fisik, melainkan berpotensi besar menjadi stimulus penggerak roda ekonomi kreatif serta sarana efektif meminimalisir dampak sosial negatif di kalangan pemuda.
"Kalau berbicara dampak, olahraga ini jelas sangat bagus untuk kesehatan. Kedua, ada dampak dari sisi psikologis dan sosial. Kita sama-sama tahu, ketika masyarakat atau pemuda sedang jenuh, tidak ada kerjaan, stres, atau pusing, ada potensi mereka melakukan hal-hal yang dalam tanda kutip negatif. Ketika banyak komunitas menyelenggarakan *event* positif seperti ini, otomatis akan meminimalisir hal-hal buruk di lingkungan," papar Diky.
Diky berharap capaian tingkat tarkam ini bisa menjadi batu loncatan awal yang baik. Ke depan, ia mendorong agar level turnamen padel di Kota Tasikmalaya bisa naik kelas secara bertahap menuju skala Priangan Timur, tingkat Provinsi Jawa Barat, hingga menembus kejuaraan nasional.
"Di sini ada sisi kreativitas yang bernilai tinggi. Apalagi kalau perlahan tapi pasti, hari ini masih level tarkam, besok lusa sudah mulai merambah se-Priangan Timur, Jawa Barat, maupun nasional," ucap Diky optimistis.
Lebih lanjut, Diky menyoroti potensi infrastruktur padel yang menjanjikan di Kota Tasikmalaya. Berdasarkan data yang ia terima, saat ini tercatat sudah ada sekitar 20 titik lokasi lapangan padel yang tersebar di wilayah hukum Kota Tasikmalaya.
"Ada 20 titik lokasi, jika rata-rata per lokasi memiliki dua lapangan, berarti kita punya 40 lapangan. Secara kuantitas ini sudah sangat representatif. Destinasi ini bisa kita maksimalkan untuk menarik animo pemain dari luar daerah, seperti Bandung, Bekasi, dan kota lainnya ke Tasikmalaya," terangnya.
Diky juga jeli melihat segmentasi peminat olahraga padel yang mayoritas digandrungi oleh kalangan menengah ke atas. Karakteristik pasar ini dinilai menjadi peluang emas bagi Pemkot untuk mendongkrak sektor pariwisata, kuliner, hingga penyerapan investasi luar daerah.
"Olahraga ini linier dengan peningkatan ekonomi daerah. Peminatnya banyak dari kelas menengah atas, artinya ada perputaran uang dan potensi investasi yang luar biasa. Banyak orang luar daerah yang belum pernah ke Tasikmalaya atau tidak tahu potensi kota kita. Lewat olahraga inilah kita kenalkan, supaya mereka datang, berbelanja, dan mau berinvestasi di Kota Tasikmalaya," urai Diky.
Kendati menaruh rasa optimisme yang tinggi, Diky Chandra secara ksatria mengakui bahwa Pemerintah Kota Tasikmalaya saat ini belum bisa memberikan dukungan anggaran secara maksimal dalam memfasilitasi pembuatan event-event olahraga berskala besar.
"Untuk urusan membuat event mandiri skala besar, jujur harus saya akui pemerintah kota masih payah. Kami belum bisa berbuat banyak karena keterbatasan alokasi anggaran daerah yang cukup ketat untuk membuat acara mandiri. Idealnya, kami ingin Pemkot Tasikmalaya yang membuat acara besar se-Priangan Timur atau nasional," katanya blak-blakan.
"Namun, kami terbentur prioritas anggaran mendesak lainnya yang harus didahulukan. Oleh karena itu, sinergi dan gerakan mandiri dari komunitas seperti ini sangat kami apresiasi guna mempertemukan titik-titik potensi tersebut agar saling berkesinambungan," pungkas Wawalkot.