Ikuti Kami :

Disarankan:

Euforia Piala Dunia 2026 Belum Bergema di Tasikmalaya, Pedagang Pernak-pernik Sepi Peminat

Selasa, 09 Juni 2026 | 10:20 WIB
Watermark
Suasana di kawasan Jalan HZ Mustofa Kota Tasikmalaya belum menunjukkan euforia Piala Dunia 2026 seperti edisi-edisi sebelumnya. Foto: NewsTasikmalaya.com/Kristian

Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 yang akan dimulai pada 12 Juni mendatang, suasana semarak yang biasanya menyelimuti Kota Tasikmalaya justru belum begitu terasa. Antusiasme masyarakat terhadap ajang sepak bola terbesar di dunia itu dinilai jauh berbeda dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 yang akan dimulai pada 12 Juni mendatang, suasana semarak yang biasanya menyelimuti Kota Tasikmalaya justru belum begitu terasa. Antusiasme masyarakat terhadap ajang sepak bola terbesar di dunia itu dinilai jauh berbeda dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Format baru tersebut dinilai sebagian warga turut memengaruhi atmosfer turnamen yang biasanya mampu membangkitkan gairah pecinta sepak bola di berbagai daerah, termasuk Tasikmalaya.

Salah seorang warga Kota Tasikmalaya, Andri (29), mengaku belum merasakan euforia yang biasanya muncul menjelang pesta sepak bola dunia tersebut.

“Piala Dunia kali ini terasa berbeda. Tidak semeriah edisi-edisi sebelumnya. Vibes-nya juga terasa kurang,” ujar Andri saat ditemui di kawasan Jalan HZ Mustofa, Kota Tasikmalaya, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, kondisi geopolitik global yang belakangan menjadi sorotan dunia kemungkinan turut memengaruhi perhatian masyarakat terhadap Piala Dunia 2026.

“Apalagi salah satu tuan rumahnya Amerika Serikat. Mungkin kondisi geopolitik saat ini juga berpengaruh karena banyak isu internasional yang menjadi perhatian publik,” katanya.

Meski demikian, Andri meyakini situasinya akan berbeda apabila Timnas Indonesia berhasil tampil di putaran final Piala Dunia.

“Kalau Indonesia lolos tentu suasananya akan luar biasa. Semua orang pasti ikut merayakan. Untuk tahun ini saya tetap menjagokan Prancis sebagai kandidat kuat juara,” tambahnya.

Minimnya euforia juga dirasakan para pedagang musiman yang biasanya meraup keuntungan dari penjualan atribut Piala Dunia. Salah satunya Heri, pedagang bendera di kawasan HZ Mustofa.

Ia mengaku memilih tidak menjual bendera negara peserta maupun berbagai pernak-pernik Piala Dunia karena khawatir sepi pembeli.

“Biasanya menjelang Piala Dunia banyak distributor menawarkan bendera dan atribut sepak bola. Tapi tahun ini saya tidak ambil karena melihat minat masyarakat belum terlalu tinggi,” ungkap Heri.

Menurutnya, dibandingkan dengan Piala Dunia sebelumnya, antusiasme masyarakat kali ini memang terlihat menurun. Padahal, momen tersebut biasanya menjadi peluang tambahan penghasilan bagi pedagang musiman.

“Kalau Indonesia berhasil lolos kemarin mungkin kami para pedagang juga ikut merasakan dampaknya. Tapi untuk sekarang memang terasa berbeda euforianya,” katanya.

Meski belum terlihat semarak, sejumlah warga meyakini atmosfer Piala Dunia 2026 akan mulai meningkat saat pertandingan memasuki fase-fase krusial dan tim-tim unggulan mulai berlaga.

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement