TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya mencatat sebanyak 1.335 orang mengalami gangguan jiwa di wilayahnya. Berdasarkan keterangan Dinkes, persoalan sosial dan ekonomi menjadi salah satu faktor yang banyak ditemukan dalam kasus tersebut.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih, membenarkan jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tercatat di wilayah Kota Tasikmalaya tersebut tersebar dalam berbagai kelompok usia dan 10 kecamatan.
Data yang disampaikan menunjukkan, kelompok usia produktif menjadi kelompok dengan jumlah terbanyak, terutama rentang usia 20 hingga 44 tahun.
"Secara umum penderita ODGJ di Kota Tasik cukup lumayan datanya ada. Total 1.335 orang, dari usia yang berbeda-beda," kata Suryaningsih saat ditemui di wilayah Kecamatan Tamansari, Rabu (21/10/2026).
Kelompok Usia 20–44 Tahun Paling Banyak
Berdasarkan data Dinkes Kota Tasikmalaya yang dipaparkan Suryaningsih, kelompok usia 20–44 tahun tercatat sebanyak 839 orang. Sementara itu, kelompok usia lainnya juga tercatat mengalami gangguan jiwa.
Berikut rincian jumlah berdasarkan kelompok usia:
- Usia 15–19 tahun: 26 orang.
- Usia 20–44 tahun: 839 orang.
- Usia 45–59 tahun: 341 orang.
- Usia 60–69 tahun: 82 orang.
- Usia 70 tahun ke atas: 38 orang.
Data tersebut menunjukkan kelompok usia 20–44 tahun mendominasi jumlah ODGJ yang tercatat di Kota Tasikmalaya.
Meski demikian, persoalan kesehatan jiwa dapat dialami berbagai kelompok usia sehingga upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.
Masalah Sosial dan Ekonomi Jadi Perhatian
Suryaningsih menjelaskan, persoalan sosial dan ekonomi menjadi faktor yang banyak ditemukan dalam kasus gangguan jiwa di Kota Tasikmalaya. Namun, faktor pemicu dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi dan permasalahan yang dialami setiap individu.
Pada kelompok remaja, misalnya, persoalan yang dihadapi dapat berkaitan dengan keinginan atau kebutuhan tertentu. Sementara pada kelompok usia dewasa, masalah rumah tangga dan tekanan keuangan turut menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.
"Penyebabnya rata-rata itu tadi masalah sosial ekonomi dan masalah lain, kalau penderitanya di usia remaja itu biasanya masalah klasik keinginan barang tertentu, lalu usia memang berumah tangga paling masalah sosial rumah tangga, dan keuangan," jelasnya.
Menurutnya, persoalan kesehatan jiwa tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan dan kehidupan sehari-hari. Karena itu, dukungan keluarga, lingkungan sosial, serta akses terhadap layanan kesehatan menjadi bagian penting dalam proses pencegahan dan penanganan.
Dinkes Kota Tasikmalaya juga terus mendorong agar masyarakat lebih memperhatikan kesehatan jiwa, termasuk mengenali perubahan kondisi emosional dan perilaku yang membutuhkan bantuan profesional.
Dinkes Perkuat Screening dan Layanan Kesehatan Jiwa
Untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan, Dinkes Kota Tasikmalaya melakukan intervensi secara berjenjang melalui fasilitas pelayanan kesehatan.
Suryaningsih menyebut, puskesmas memiliki pengelola program Sahabat Jiwa yang menjalankan kegiatan skrining secara rutin setiap pekan.
Selain itu, layanan medis untuk penanganan gangguan jiwa juga didukung fasilitas kesehatan di Kota Tasikmalaya, termasuk RS Siti Muniroh, serta layanan rujukan ke RS Marzoeki Mahdi.
"Dan intervensi ke puskesmas itu kita punya pengelola Sahabat Jiwa dan setiap rutin seminggu dilakukan screening. Harapan kita warga Kota Tasik bisa meningkatkan pola hidup sehat atau mengaktifkan kegiatan seperti olahraga dan sebagainya untuk menghilangkan beberapa kesan sakit yang ada di warga Kota Tasik," pungkasnya.
Dinkes berharap masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan fisik dan mental, serta tidak ragu mencari pertolongan apabila mengalami persoalan yang mengganggu keseharian.
Dukungan keluarga dan lingkungan juga diperlukan agar orang yang mengalami gangguan jiwa mendapatkan pendampingan serta penanganan yang sesuai, tanpa stigma maupun diskriminasi.