Ikuti Kami :

Disarankan:

Monyet Ekor Panjang Resahkan Warga Cipedes, Penanganan Dilakukan Berbasis Konservasi oleh CDK Wilayah VI Kota Tasikmalaya dan BKSDA Ciamis

Kamis, 24 Juli 2025 | 16:45 WIB
Monyet Ekor Panjang Resahkan Warga Cipedes, Penanganan Dilakukan Berbasis Konservasi oleh CDK Wilayah VI Kota Tasikmalaya dan BKSDA Ciamis
Monyet Ekor Panjang Resahkan Warga Cipedes, Penanganan Dilakukan Berbasis Konservasi oleh CDK Wilayah VI Kota Tasikmalaya dan BKSDA Ciamis. Foto: Istimewa

Kehadiran monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang meresahkan warga Kampung Cibogor, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya akhirnya ditangani dengan pendekatan konservasi. Tim gabungan berhasil menangkap satwa liar tersebut secara aman dan tanpa kekerasan.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Satu ekor monyet ekor panjang (MEP) yang kerap menimbulkan keresahan di wilayah Kampung Cibogor, RT 04, RW 14, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, berhasil ditangkap oleh tim gabungan dari Penyuluh Kehutanan CDK Wilayah VI Kota Tasikmalaya dan Bidang KSDA Wilayah III Ciamis.

Penanganan ini dilatarbelakangi oleh laporan masyarakat terkait keberadaan monyet liar yang berada di permukiman dan sering merusak tanaman, mengganggu aktivitas warga, serta menimbulkan kekhawatiran akan penyebaran penyakit zoonosis.

Bahkan, sempat terjadi insiden penggigitan oleh MEP yang dipelihara warga, yang memicu keprihatinan atas meningkatnya potensi konflik antara manusia dan satwa liar.

"Penanganan ini dilakukan dengan pendekatan konservasi, bukan cara-cara brutal atau merugikan satwa," jelas R. Wahyu Suseno, S.Hut., Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama CDK Wilayah VI yang membawahi Cipedes, Indihiang Bungursari, Mangkubumi, dan Kawalu, kepada NewsTasikmalaya.com, pada Kamis (24/7/2025).

monyet ekor panjang (MEP)

Setelah melakukan koordinasi lintas sektor dan survei lokasi, tim memutuskan untuk memasang kandang jebakan di titik strategis sekitar permukiman. Pemasangan dilakukan pada Senin (21/7/2025). Proses tindakan itu direncanakan dilaksanakan pada hari Kamis (24/7/2025) sekitar jam 09.00 WIB.

Namun, sekitar pukul 08.00 WIB di hari yang sama, target MEP sudah lebih dahulu masuk ke jebakan. Satwa tersebut langsung diamankan dan dibawa ke Kantor Bidang BKSDA di Ciamis untuk proses relokasi.

“Kegiatan ini menjadi contoh penanganan konflik manusia dengan satwa liar yang dilakukan secara kolaboratif, aman, dan memegang prinsip pelestarian keanekaragaman hayati,” tambah Wahyu.

“Penanganan seperti ini diharapkan menjadi acuan untuk wilayah lain yang menghadapi permasalahan serupa, mengingat monyet ekor panjang merupakan spesies yang dilindungi dan memiliki peran penting dalam ekosistem,” pungkas Wahyu.

Sebagi tambahan informasi, Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan salah satu jenis satwa liar yang tersebar luas di Indonesia dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Namun, seiring dengan perkembangan wilayah dan meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa liar, keberadaan monyet ekor panjang kerap menimbulkan konflik, khususnya di kawasan permukiman, area pertanian, maupun kawasan wisata alam.

Konflik ini dapat berupa perusakan tanaman, gangguan terhadap aktivitas manusia, bahkan potensi penularan penyakit zoonosis. Permasalahan tersebut tidak hanya berdampak terhadap keamanan dan kenyamanan masyarakat, tetapi juga berisiko terhadap kelestarian satwa itu sendiri.

Di beberapa lokasi, tindakan masyarakat terhadap monyet ekor panjang sering kali tidak sesuai dengan prinsip konservasi, seperti pengusiran secara brutal, penangkapan ilegal, atau perdagangan satwa liar yang dilarang.

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang terencana, terpadu, dan berbasis konservasi untuk menangani keberadaan monyet ekor panjang di tengah masyarakat. Salah satu upaya penting yang harus dilakukan adalah kegiatan koordinasi dan konsultasi lintas sektor guna menyusun strategi penanganan yang tepat.

Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan pandangan dan langkah antar pemangku kepentingan, seperti instansi pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga konservasi, akademisi, serta masyarakat lokal.

Melalui koordinasi dan konsultasi, diharapkan dapat diperoleh pemahaman bersama mengenai pola perilaku monyet ekor panjang, potensi ancaman dan dampaknya, serta opsi-opsi mitigasi yang tidak merugikan satwa maupun masyarakat.

Dengan pendekatan yang kolaboratif, penanganan konflik manusia dan satwa liar dapat dilakukan secara berkelanjutan dan selaras dengan prinsip konservasi keanekaragaman hayati.

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement