Ikuti Kami :

Disarankan:

Pemkot Tasikmalaya Terima Prototipe Batik Hijau, Hasil Kolaborasi Riset UPI dan Universitas Malaysia

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:37 WIB
Watermark
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadan menerima prototipe Batik Hijau hasil kolaborasi riset UPI dan UiTM Malaysia di Gedung PPIK Cibeureum, Kota Tasikmalaya. Foto: NewsTasikmalaya.com/Kristian

Pemerintah Kota Tasikmalaya menerima prototipe Batik Hijau hasil kolaborasi penelitian Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Inovasi tersebut mengusung konsep ramah lingkungan melalui penggunaan pewarna alami dan material berkelanjutan.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Pemerintah Kota Tasikmalaya menerima prototipe Batik Hijau (Green Batik) yang dikembangkan melalui kerja sama penelitian antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. 

Penyerahan prototipe tersebut berlangsung di Gedung Pusat Pengembangan Industri Kerajinan (PPIK), Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya, Selasa (21/7/2026).

Inovasi tersebut menjadi langkah baru dalam pengembangan industri batik yang tidak hanya berorientasi pada nilai budaya dan ekonomi, tetapi juga mengedepankan aspek keberlanjutan lingkungan.

Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadan mengatakan, riset yang dilakukan kedua perguruan tinggi tersebut berfokus pada pengembangan material ramah lingkungan sebagai alternatif pengganti bahan sintetis yang selama ini banyak digunakan dalam proses produksi.

“Ini merupakan upaya untuk mengembangkan industri batik yang lebih berkelanjutan. Tidak hanya menjaga nilai historis dan budaya batik, tetapi juga memperkuat sektor ekonomi kreatif dengan memperhatikan kelestarian lingkungan,” ujar Viman.

Konsep Batik Hijau yang dikembangkan UPI dan UiTM mengedepankan penggunaan bahan-bahan yang lebih aman bagi lingkungan. Mulai dari pemanfaatan pewarna alami, material berkelanjutan, hingga penggunaan kain yang mendukung prinsip produksi ramah lingkungan.

Pengembangan prototipe ini diharapkan dapat menjadi model baru bagi industri batik di Tasikmalaya yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan dan batik di Jawa Barat.

Selain meningkatkan daya saing produk lokal, inovasi tersebut juga dinilai mampu menjawab tuntutan pasar global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dalam proses produksi.

Dalam pertemuan tersebut, tim peneliti dari UPI dan UiTM Malaysia juga berdiskusi dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya mengenai berbagai peluang kerja sama di bidang lingkungan hidup dan ekonomi sirkular.

Salah satu topik yang dibahas adalah pemanfaatan sampah termoplastik dan limbah organik yang berpotensi diolah menjadi biomaterial maupun produk ramah lingkungan bernilai ekonomi.

Menurut Viman, pendekatan tersebut sejalan dengan komitmen Pemkot Tasikmalaya dalam mendorong inovasi pengelolaan sampah sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Kolaborasi ini tidak hanya berbicara tentang batik, tetapi juga membuka ruang pengembangan inovasi lain yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Viman menyebut kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah tersebut berpotensi berkembang ke berbagai sektor lainnya.

Selain riset dan pengembangan teknologi, peluang kolaborasi juga mencakup implementasi hasil penelitian di masyarakat hingga penjajakan kerja sama antardaerah atau **sister city** dengan salah satu kota di Malaysia.

Menurutnya, sinergi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghasilkan inovasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan daerah.

“Kami ingin hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar dapat diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, perwakilan UiTM Malaysia, Prof. Dr. Badrul Isa, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan Pemerintah Kota Tasikmalaya terhadap program kolaborasi tersebut.

Ia menilai Tasikmalaya memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan industri kerajinan berbasis keberlanjutan karena didukung oleh kekayaan budaya, sumber daya manusia kreatif, dan sektor UMKM yang berkembang.

Menurutnya, Kota Tasikmalaya dapat menjadi daerah percontohan dalam pengembangan industri yang mampu menciptakan keuntungan ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

“Kami melihat Tasikmalaya memiliki potensi yang sangat besar. Kota ini dapat menjadi contoh bagaimana pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan,” ujarnya.

Melalui pengembangan Batik Hijau dan berbagai inovasi berbasis biomaterial, diharapkan Tasikmalaya semakin dikenal sebagai kota kreatif yang mampu mengintegrasikan budaya, teknologi, dan keberlanjutan dalam pembangunan ekonomi daerah.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement