TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com - Rencana penampilan Hindia dalam acara "Ruang Bermusik" yang akan digelar di Lanud Wiriadinata, Kota Tasikmalaya, pada 20 Juli 2025, menuai penolakan dari sejumlah pihak. Salah satunya datang dari Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Al Mumtaz) yang menyebut Hindia sebagai grup musik yang berafiliasi dengan satanisme.
Sekretaris Al Mumtaz, Abu Hazmi, menyatakan bahwa musik bukan sekadar hiburan, melainkan ekspresi dari nilai-nilai spiritual dan ideologi penciptanya.
"Musik bukan sekadar hiburan, Ia adalah ekspresi ruh dan ideologi. Kalau ruh penciptanya adalah kufr (satanic), maka seluruh performa tetap akan memancarkan nilai kekufuran meski tanpa simbol," ujar Abu Hazmi dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (11/7/2025) sore.
Ia menegaskan bahwa penolakan tersebut bukan ditujukan kepada keseluruhan acara, melainkan hanya terhadap kehadiran band Hindia.
"Kami tidak menolak acara Ruang Bermusik, kami menolak adanya grup musik Hindia tersebut tampil. Karena mengundang mereka sama dengan membuka pintu wasilah kekufuran," tegasnya.
Menanggapi isu tersebut, perwakilan EO Ruang Bermusik, Rizki Ginanjar Saputra, membantah tudingan yang menyebut Hindia sebagai kelompok satanis.
"Jadi sebenarnya menurut kami ada kesalahpahaman atau informasi yang tidak lengkap terkait si Hindia itu. Isunya Hindia itu adalah satanis, padahal mereka sudah mengklarifikasi bahwa mereka bukan satanis di beberapa podcast yang ada di Indonesia," ungkap Rizki.
Ia menjelaskan bahwa tudingan tersebut kemungkinan berasal dari aksi panggung saat peluncuran album "Lagipula Hidup Akan Berakhir" pada 2023, yang oleh sebagian pihak disalahartikan sebagai ritual pemujaan.
"Itu bukan benar-benar proses pemujaan setan, itu sebagian dari aksi panggung. Kalau memang mereka satanis, tidak mungkin mereka bisa tampil di Padang, Bandung, Bali, bahkan Jakarta," katanya.
Rizki juga menyebut, selama enam bulan terakhir, Hindia telah menggelar 33 konser, dengan hanya dua yang batal dan bukan karena perizinan.
Ia menambahkan bahwa pihak penyelenggara telah melakukan sosialisasi dengan organisasi masyarakat dan unsur Forkopimda untuk menjelaskan bahwa acara musik ini tidak berkaitan dengan unsur satanisme. Semua band dan bintang tamu juga diwajibkan mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
"Festival ini bertujuan untuk mendorong pariwisata dan menggairahkan ekonomi lokal, termasuk UMKM, hotel, dan sektor lainnya," jelas Rizki.
Pihaknya juga memastikan bahwa tidak ada unsur simbol atau praktik yang menyimpang dalam festival tersebut.
"Di festival ini tidak ada patung, tidak ada ritual menutup mata, dan apabila itu terjadi kami siap menghentikan kegiatan dan mencoret band tersebut. Semua sudah kami paparkan," tegasnya.
Ia juga mengonfirmasi bahwa proses perizinan telah berjalan, dengan rekomendasi dari Polsek telah dikantongi, dan saat ini tinggal menunggu izin dari Polres untuk diajukan ke Polda Jabar.
"Sebenarnya kami berharap acara ini tetap berjalan, karena tahun ini audiens dari luar kota seperti Jakarta, Depok, Bandung, hingga Jawa Timur sudah menyatakan hadir," harapnya.
Sementara itu, perwakilan Forum Bhineka Tunggal Ika Tasikmalaya, Asep Rizal Asy'ari, menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan konser tersebut. Ia menilai acara semacam ini dapat memberi dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif di Tasikmalaya.
"Kalau dalam konteks ini ada kesalahan-kesalahan yang dianggap akan menyesatkan, itu juga harus dikaji secara utuh," ujar Asep.
Ia juga menyarankan agar semua pihak duduk bersama untuk menyelesaikan perbedaan pendapat ini.
"Mereka (musisi) harus menghormati kearifan lokal masyarakat Tasikmalaya. Saya harap Kota Tasik ini menjadi kota yang ramah terhadap kreativitas, jadi membuka ruang. Dan Pemkot juga harus turun dong, tengahi masalah ini," tandasnya.